We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
JURAGAN EMBER (Part 1)

JURAGAN EMBER (Part 1)

  • WpView
    Reads 22
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 20, 2018
WpInfo
Non-Fiction
"Ihhh.. aku ga mau main sama Chika ahhh.." kata Sari. "Kenapa kamu ga mau main sama aku?" tanya Chika. "Ehmmm.. kasih tau ga yaaa.." goda Sari dengan sinis tapi langsung pergi meninggalkan Chika begitu saja. "Astaghfirullah.." Chika menghela nafas sambil berjalan menuju rumahnya. " Assalamu'alaykum.. " ucap Chika saat masuk ke dalam rumah. "Wa'alaykumussalam. Chika ko kelihatan sedih?" tanya ibu Chika. "Ga apa-apa ko, bu.." Chika menjawab sambil berusaha menutupi kesedihannya. Chika Meida Putri Utama adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Gadis cantik yang sekarang duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar (SD) itu kehidupannya sangatlah sederhana, setiap hari Chika selalu membawa brosur produk ember. Yang ditawarkan kepada teman-teman ataupun orang-orang yang ditemuinya. Tapi Chika tidak pernah malu untuk itu karena dari usaha ember itu ibunya yang bernama Cici dan ayahnya yang bernama Karma bisa menafkahi dan menyekolahkan kelima buah hatinya. Terkadang Chika pun menemani sang ayah berjualan ember di pasar kaget. Seru katanya dan bisa tahu juga suka dukanya menjadi pedagang, khususnya pedagang ember ini. Meskipun begitu, nilai di sekolah Chika tidak pernah mengecewakan. Memang Chika bukan termasuk anak yang selalu mendapatkan juara di kelasnya, tapi Chika seringkali menang jika ada perlombaan kerajinan tangan. "Ko sore ini tumben kamu ga main sama teman-teman?" sambung ibu. "Ehmmm.. Chika mau bikin kerajinan tangan aja, Bu. Tadi di mading sekolah ada pengumuman kalau ada lomba membuat mainan dari kardus" jawab Chika yang sudah melupakan sikap Sari tadi. "Lalu Chika rencananya mau bikin apa ni?" tanya ibu antusias. "Nahhh.. itu. Sebenarnya Chika masih bingung, Bu. Mungkin ibu punya ide?" Chika bertanya penuh harap. "Ehmmm.. coba nanti ibu bantu cari idenya ya, nak. Nahhh.. Chika udah mandi belum? Mumpung adik-adik Chika masih tidur, masih dulu aja ya. Biar ga rebutan, kan kamar mandinya cuma ada 1" kata Ibu dengan lembut. Bersambung..
All Rights Reserved
#979
fiksiumum
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TAKDIR TERBAIK (TERBIT)
  • Forever Friends ( End )
  • Kia larasati fortuna
  • C I N (T) A (COMPLETE)
  • Transmigrasi MyTia [END]
  • Senja Untuk Amara (TAMAT)
  • Sweet Combat
  • Being A Stupid Stepmother [END]

Dilamar karena saling mencintai ✖ Dilamar karena mendoakan saat bersin✔ ** Najla tidak pernah mengira kalau mendoakan seorang Adam Rayyan Rizqullah ketika lelaki itu bersin akan berakhir dilamar. Gadis yang belum move on dari mantan kekasihnya itu dibuat bingung. Antara menerima lamaran dari Adam atau menunggu Alan kembali yang entah pergi ke mana. Di mata Najla, Adam memiliki sebuah kelebihan dan sesuai kriteria suami idamannya. Apa itu? Kelebihan Adam adalah duda! Iya, kalian tidak salah baca. Najla, gadis absurd yang memiliki kriteria suami idaman seorang duda. Aneh, bukan? Keinginannya menikah dengan duda sudah mendarah daging, bahkan kedua sahabatnya didoktrin agar memiliki kriteria yang sama. Akankah Najla menerima lamaran dari Adam dan melupakan masa lalunya? ** "Adek saya masih kecil," ucap Lettu Ammar "Saya tau," jawab Mayor Adam enteng. "Dia gengsian." "Saya akan belajar untuk peka." "Dia suka marah-marah." "Sebisa mungkin saya tidak memancing amarahnya." "Ilmu agama yang dia tau tidak sedalam itu." "Akan saya santriwatikan adekmu dengan saya yang menjadi guru privatnya." "Dia manja." "Akan saya turuti semua inner child-nya."

More details
WpActionLinkContent Guidelines