ALUNA
  • WpView
    Reads 190
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 17, 2019
Kenapa takdir begitu kejam dengan diriku? Berteman dengan sepi adalah makananku sehari-hari. Kadang aku sempat mengeluh dengan keadaan yang seperti ini. Tapi lama kelamaan aku sadar, jika Tuhan memberikan ku ujian ini supaya dia tau apakah aku bisa melewatinya atau tidak. Akan aku tunjukkan kepada Tuhan jika aku bisa melewati setiap ujian yang dia berikan kepadaku. Walaupun tak ada satupun orang yang mendukungku untuk melewati setiap ujian yang diberikan Tuhan kepadaku. Hingga suatu hari aku bertemu dengan seseorang yang sangat peduli denganku seperti apa yang dilakukan kakek kepadaku semasa hidupnya, dia yang telah memberikan warna baru untuk kehidupan yang dulunya berwarna pudar sekarang bisa menjadi warna yang sangat terang. Aku memohon kepada Tuhan supaya tidak mengambil orang yang ku sayangi ini lagi. Tapi ternyata Tuhan berkata lain.
All Rights Reserved
#508
bad
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • HYUNA'S LIFE
  • SYA
  • RAGASEA (END)
  • Inside Me [END]
  • Garis yang Memisah
  • New World [REVISI]
  • Ekstrovert & Introvert [SELESAI✔️]
  • SALAH RASA (TAMAT)
  • Maaf, Aku Terlambat END✅
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines