Janji Untuk Rani

Janji Untuk Rani

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 22, 2018
"Sampai kapan Ra kau akan tetap menunggu gak pasti gini!?" Mala sahabat rani bertanya geram. "Sampai mas Yusuf pulang, aku yakin La, dia akan kembali" selalu begitu jawab Rani. Nadanya penuh kepercayaan. "Ra, yusuf nda pasti Ra, kamu saja tak tahu kapan dia akan kembali, kamu saja tidak tahu gimana dia sekarang. Dia sama sekali gak memberi kepastian hingga kini" Mala terus mencoba untuk meluluhkan Rani. "Dia akan pulang La, dia yang akan menikahiku" selalu saja begitu. "Ok, aku cuma mau bilang, jangan sampai egois Ra, karena hanya memikirkan perasaanmu saja. Liat ada Mas Andi, dia begitu tulus mencintaimu, ada ayah mu yang sudah menginginkanmu untuk segera menikah. Pikirkan lagi Ra " . . Rani tahu semua tidak pasti, tapi ia sudah memutuskan untuk tetap menanti. Rani tahu ia tidak bisa melepas rindu begitu saja kapan ia mau, tapi ia sudah memutuskan mau untuk tetap merindu, bagaimanapun keadaannya nanti. Ia tak peduli jarak, seberapa jauh itu ia yakin dia akan pulang untuknya. Tapi apakah semua ini egois. Apakah penantiannya selama ini salah. Siapa yusuf sebenarnya. .
All Rights Reserved
#404
penantian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Prenuptial Agreement
  • PELANGI
  • Karena Kamu Rumahnya
  • JEVINO
  • Hello!! my Husband [END]
  • Together with The Sundown
  • TOO LATE TO FORGIVE YOU | ✔ | FIN
  • ARALVI [Completed]
  • Nearby Relations
  • Diantara Cinta Dan Takdir

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines