Kata Tanpa Pena

Kata Tanpa Pena

  • WpView
    GELESEN 14,427
  • WpVote
    Stimmen 200
  • WpPart
    Teile 5
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Do., Feb. 1, 2024
Aku bukan penulis handal dalam merangkai kata. Jadi sudah dapat dipastikan ketikan kata di dalamnya akan seperti apa. _____________________________________________ Pada semilir angin yang meneduhkan. Tolong sampaikan pada yang terkasih, yang sudah jauh di awang awang, yang telah berpulang. Yang kini tak mampu ku genggam lagi jemarinya, tak mampu ku rengkuh lagi tubuh kekarnya, tak mampu ku gapai. Ia terlalu jauh. Pada semilir angin. Kumohon jangan jadi badai. Aku tengah rapuh kini. _sun_
Alle Rechte vorbehalten
#41
dairy
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • Aku Pengamat, Terasingkan
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Secangkir Kopi dan Seutas Rindu [ COMPLETED ]
  • Senja (Diangkat Dari Kisah Nyata)
  • Obstacles eternal love || Fresha (End)
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Nasihat dalam Puisi
  • ALONE

Di antara ruang-ruang waktu yang rapuh, ada dua bayang yang saling mengenal tanpa pernah benar-benar berjanji untuk bertemu. Seperti angin yang tak bisa dijinakkan, mereka terjebak dalam pusaran perasaan yang tak terucap-seperti dua kutub yang selalu saling mendekat, namun tak pernah benar-benar menyatu. Shani dan Gracia-dua nama yang berpadu dalam riuh dan hening yang tak berujung. Sebuah kisah yang tumbuh di antara jeda-jeda keheningan dan kesalahpahaman, di mana cinta hadir bukan sebagai sesuatu yang harus dikuasai, tetapi sebagai sesuatu yang terus menguji batas. Dari pertemuan yang tak sengaja, hingga keputusan yang menggantung di antara masa lalu dan masa depan, mereka bergerak dalam ruang yang terperangkap di antara harapan dan ketakutan. Cinta yang pernah lahir di celah-celah keterasingan kini harus dipahami kembali-apakah ia benar-benar bisa menjadi rumah, atau hanya sekadar bayang yang tak bisa digenggam? Dan seperti jejak yang ditinggalkan di pasir pantai yang terus dihempas angin, mereka mencoba mengerti: apakah ini adalah akhir... atau justru awal dari perjalanan yang lebih jauh?

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien