MY CRUSH

MY CRUSH

  • WpView
    Reads 415
  • WpVote
    Votes 54
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 6, 2022
"Arsenio? itu id Line lo ?" tanya Dara "hm.." jawab Agam "Gue gak nyangka sih Lo sok ganteng tapi nyatanya lo genit. Kalo gue boleh jujur ini ga sesuai sama muka lo" kata kata Dara sangat ketus, Tapi Agam tak mengerti sama sekali "Maksud lo ?" tanya Agam bingung "ini buktinya lo chat gue 'hai' ,berasa anak ABG haha" ejek Dara Agam tahu sekarang arah pembicaraan dari Rendi dan cewek aneh di depannya ini. Agam langsung melemparkan tatapan tajam kepada Rendi. Agam tahu ini pasti kerjaan temannya yang menyebalkan itu. Rendi hanya meringis seolah berkata 'sorry gue iseng' . Agam hanya mendengus kesal melihat Rendi malah berlaku sok imut "Gue gakenal lo,dan gak seharusnya lo ngatain gue . Lo gatau gue siapa jadi jangan sembarangan nilai gue kayak gitu" ucap Agam dingin mau tahu kelanjutannya, yuk baca 😋
All Rights Reserved
#781
junghosek
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines