Cinta di Atas Sajadah Biru

Cinta di Atas Sajadah Biru

  • WpView
    LETTURE 197
  • WpVote
    Voti 5
  • WpPart
    Parti 2
WpMetadataReadCompleta dom, lug 29, 2018
Aku melihatnya tengah duduk di pekarangan masjid, ia tengah menahan hujan yang mulai meluap dan sebentar lagi akan tumpah tak karuan. dan akan bertebaran membasahi mata indahnya, hidung mancungnya dan bibirnya yang mungil. Aku jelas melihat wajahnya yang pucat pasi, tatapannya kosong. Aku tak tahu apa yang sedang merasuki hatinya. Hanya saja, aku merasa ibah dan kasihan melihatnya begitu terisak. Cukup lama, aku menatapnya diam-diam. Melihat hidungnya yang mulai memerah, matanya yang bengkak. Aku tak pernah melihat seorang lelaki menangis sesendu itu sebelumnya. Jika saja itu sandiwara, maka ia bisa mengalahkan para pemain sinetron di Indonesia. Setahuku lelaki adalah sosok yang kuat dan tegar. Ayahku membuktikannya, lelaki cenderung malu menunjukkan kesedihannya. Hanya saja, ia berbeda. Aku ingin menghampirinya, bercakap dengannya dan menghibur dirinya. "Jangan, tak baik jika perempuan berduaan dengan lelaki yang bukan mahromnya". Tiba-tiba saja hatiku berbisik. Aku pun mengurungkan niat baikku. "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar". Aku terperanjat dari lamunanku. Setelah terdengar adzan menggema di telingaku. Aku terdiam sejenak, menunggu reaksi lelaki itu bangkit dari keterpurukannya. Tapi, tak ada tanda-tanda. Ia hanya duduk diam seribu bahasa menatap nanar. Lalu, aku bergegas menjemput suara adzan itu. Membasahi setiap ruas jari jemari tanganku, hingga ruas jari kakiku. Aku merasakan ketenangan yang luar biasa. Namun, tetap saja pikiranku masih teralihkan olehnya. Lelaki malang yang menyedihkan. Memikirkannya membuatku tak khusyu'. Setan menguasaiku. Hingga lupa, bacaan shalatku . "Astagfirulla". Berulang kali aku ucapkan kata itu. Memohon ampun pada-Nya karena telah lalai dan tidak serius menjalankan perintahnya. "Pammoporonga Karaeng" (Ampuni Hamba ya Allah) Siang itu, Suara Adzan dzuhur menjadi saksi bahwa aku diam-diam menatapnya dan memperdulikannya.
Tutti i diritti riservati
#22
pengharapan
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Angel To Raya (END)
  • "PERJUANGAN CINTA BEDA AGAMA"
  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Di antara dua sujud
  • Istri Cadangan
  • Bukan Istri Bayaran(End)
  • Rumah Sepasang Luka ✓
  • Turun Ranjang
  • Ikhtiar Menjemput Cinta [REVISI + END]
  • Love In Silence

Cerita ini menceritakan tentang wanita yang di nikahi bukan karena CINTA melainkan harapan. Ya, harapan akan sesosok malaikat kecil yang di impikan untuk melengkapi sebuah bahtera rumah tangga. Raya, nama yang menjadi kandidat Indra untuk calon ibu dari bayinya kelak. Bayi yang akan melengkapi kisah kasih pernikahannya dengan Maya wanita pemilik cintanya. Sementara itu Raya selalu menganggap Indra seperti Angelnya. Orang yang memberinya harapan baru dengan janji. Janji yang tak pernah ia tepati. Lalu apakah Raya akan menerima Indra? Apa selamanya ia hanya akan di jadikan yang kedua? Atau mencari Angel yang lain?? "Mengapa kau melamarku?" tanyaku menatap pada lelaki di depan. Lelaki yang sebulan lalu berhasil mengisi hatiku. Bahkan, sampai sekarang pun masih. "Aku telah mengatakannya, istriku yang memintamu. Ia ingin memiliki seorang anak dan ia tahu ia tak bisa memilikinya sendiri." "Maksudmu aku hanya kalian anggap sebagai sapi perah, begitu?" tanyaku sinis. "Tidak, tidak Raya. Tentu saja tidak." "Apa kau mencintaiku?" tanyaku mengalihkan topik. Sekilas aku melihat Indra menegang sebelum dengan cepat ia kembali menguasai diri. "Maaf, aku tidak mencintaimu, mungkin belum. Tetapi aku berjanji akan mencintaimu. Bagaimana apa kau mau menjadi istriku?" * * * Huhuhu. Penasaran Raya terima Indra atau gak? Cus, langsung di kepoin aja. Udah END loh!:()

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti