Twenty six

Twenty six

  • WpView
    Reads 1,079
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 52
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 20, 2019
"Kita memang udah harus akhirin semuanya Al" Reza mengangkat wajah Alya yang sudah di banjiri oleh air mata. "Tapi kenapa? Karena ada perempuan lain?" Entah mendapat kekuatan apa, akhirnya Alya berbicara walau terbata "Nggak ada, aku cuma nggak mau kamu kecewa" "Kamu jahat Za!" Alya menutup wajahnya sambil menangis, dengan sigap Reza mencoba menenangkannya. "Kita simpan cerita ini dalam-dalam, cerita yang akan selalu terekam di ingatan. Bahwa dulu kamu dan aku pernah menjadi kita, kita yang mempunyai banyak mimpi, mimpi untuk terus bersama, walaupun kita nggak bisa wujudin mimpi itu. Dan satu hal yang perlu kamu ingat, jangan pernah benci aku karena hal ini, tapi benci akan perpisahan ini"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PROSA "Proyeksi Rasa" [END]
  • Just Friend, not more [COMPLETE!✔]
  • The Game
  • ALYA (END)
  • INI CINTA BUKAN BENCI
  • HALOALKANA
  • Diary Cewek Tomboy [A Five]
  • Second Lead (Toxic) ✓
  • Another Goodbye (The Other Side 2)

Bagi Alfira, persahabatan adalah ikatan tanpa komitmen. Sedangkan sahabat adalah makhluk Tuhan yang siap mendengarkan keluh kesahmu dan memberi solusi dari masalah kehidupanmu. Tapi keadaan memang tidak pernah bisa diprediksi, apa yang dimiliki juga bisa kapan saja pergi. Ketika sahabatnya pergi, Alfira benar-benar kehilangan arah tanpa arti, butuh adaptasi lagi untuk sembuh dari elegi. "Cuma lo Ra! yang menganggap persahabatan ini bukan apa-apa. Ya cuma lo!" ucap Reza kecewa. Namun, ketika semuanya kembali mampukah Alfira berdamai dengan hati? Butuh waktu yang lama untuk sembuh, butuh keadaan yang seirama untuk menempuh. Tapi, bagaimana jadinya jika aku sudah berhasil berlabuh, dengan mudahnya kau kembali dan karamkan lagi kapalku? "Kalo nggak mau jadi pacar gue oke gue terima lo tolak, tapi kalo gue lamar gimana?" ucap laki-laki yang ada dihadapannya. Lalu apa-apaan kali ini? Dengan berani dan percaya diri tingkat tinggi, dia menawarkan diri menjadi awak kapalku? Yang aku yakin, dia pasti mampu membantuku. Namun, bisakah aku melupakan masa lalu? Dan kembali menempuh perjalanan baru?

More details
WpActionLinkContent Guidelines