Impian Daun Maple

Impian Daun Maple

  • WpView
    Reads 57
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 6, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
"Serumit apapun kehidupan di muka bumi, aku cukup menjadi manusia yang semudah mungkin menata hidup. Dan, satu hal lagi. Tidak terlibat dalam masalah." -Sarah- "Aku sempat memeluk beragam warna yang ditawarkan oleh dunia. Dan, karena kehilangan dalam sekejap warna itu pudar begitu saja." -Thomas- Dan atas kuasa waktu mereka terlibat demi menuntaskan kelima mimpi mereka masing-masing. Lima. Jumlahnya seperti daun berjari lima, maple. Lantas, apakah mereka mampu mewujudkan impian mereka? Agar tak gugur sia-sia seperti maple yang berserakan dan terinjak-injak di setiap jalan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • Same But Different (Hiatus)
  • Air Mata Impian
  • Family Strength END✔️
  • Bangkitnya Sang Penjaga Untuk Memulihkan Alam Yang Hilang [END]
  • Story Of Symphony - END [Revisi]
  • too beautiful to notice (YananTianjiarui)(END)
  • FOREVER YOUNG
  • love in you

Di Rimba Merun, kami belajar di sebuah sekolah kecil yang nyaris tak pantas disebut sekolah. Atapnya bocor. Dindingnya reyot. Buku-bukunya lebih tua daripada sebagian guru kami. Tetapi dari tempat itulah kami mengenal dunia-aku, Elang yang terlalu pintar, Badar yang hampir selalu mendapat nilai nol tetapi mampu membaca sungai seperti buku, Lee, Boih, Munisa, Seruni, dan anak-anak lain yang percaya bahwa kehidupan tak mungkin lebih rumit daripada ujian Matematika. Kami keliru. Hari-hari kami sebelumnya hanya dipenuhi perkara-perkara penting: menangkap ikan di Way Semah, melempar batu sampai dua puluh pantulan, berlari tanpa alas kaki, menghindari hukuman guru, dan mempertaruhkan harga diri dalam perlombaan-perlombaan yang hadiahnya bahkan tidak ada. Sampai suatu hari, orang-orang asing datang ke Rimba Merun. Mereka membawa peta tanah. Lalu menancapkan patok-patok ke tanah yang sejak lahir kami anggap milik kami. Awalnya kami tidak peduli. Orang dewasa selalu mempunyai urusan aneh yang tidak menarik bagi anak-anak. Namun patok-patok itu semakin banyak. Hutan mulai ditandai. Tanah mulai diukur. Orang-orang Dusun mulai berbisik. Dan suatu hari kami menyadari sesuatu. Garis patok itu menuju sekolah kami. Saat itulah permainan berakhir. Kami hanyalah anak-anak dusun. Kami tidak mempunyai uang, kekuasaan, ataupun orang penting yang bisa dimintai pertolongan. Yang kami punya hanyalah sebuah sekolah reyot, persahabatan, beberapa sepeda tua, keberanian yang kadang muncul pada saat yang salah-dan Elang, yang mulai mencurigai bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di Rimba Merun. Kami belum tahu bahwa usaha mempertahankan sekolah kecil itu kelak akan membawa kami berhadapan dengan orang-orang yang bahkan orang dewasa takut menyebut namanya. Dan kami sama sekali belum tahu bahwa suatu hari nanti, sebuah kata akan dituduhkan kepada kami. MAKAR. Padahal waktu itu, kami bahkan masih kesulitan memahami perkalian tujuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines