Vino Razello

Vino Razello

  • WpView
    Reads 262
  • WpVote
    Votes 52
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 25, 2018
Teman,ya itulah yang pantas disebut oleh dua sejoli ini.Ya mereka sudah sejak lama bersama.dari masa masa SD hingga kini SMA mereka slalu bersama. Tentu kini semua berbeda,dahulu memanglah mereka hanya teman,tapi semua berubah saat salah satu dari mereka mulai merubah rasa sayang dengan rasa cinta,ya.Memang sangat menyakitkan saat terlibat friendzone dengan teman masa kecil. Akankah dia memahami rasa perempuan ini??atau sebaliknya mereka akan saling membenci?? *cerita ini berdasarkan pengalaman nyata.tanpa mencontoh cerita apapun.ori hasil ketikan sang penulis dan pengalaman hidup *typo bertebaran.maafkan bukan penulis handal
All Rights Reserved
#36
dance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Taken Slowly
  • A3 [AMEL AJI & ANUGERAH]✔
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • Elvina [COMPLETED]
  • Fanzone vs Friendzone // [SELESAI]
  • Certainty [REVISI & TERBIT]
  • Antara Aku, Kau dan Dia  {TERBIT}
  • Kapten Futsal🍂 ✔️
  • If I Don't Hurt You (END)
  • (Un)Covered

MAUVE Diawali dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Di atas bus pada suatu sore sepulang latihan tari. Aneh rasanya, gue yang suka nge-cover dance K-Pop di media sosial dan cuma buka buku pelajaran kalau besok ada ujian, naksir cowok yang selalu peringkat satu di kelas dan hobinya adalah belajar. Tapi, cinta emang kayak gitu, 'kan? Memunculkan hal-hal baru yang lo enggak tahu ada di diri lo. MILO Jatuh cinta sama sahabat sendiri dan ketahuan? Dan, demi menyelamatkan muka, mau-mau aja diajak pura-pura pacaran sama teman sekelas yang terang-terangan naksir elo? Yap, tepat itulah yang gue lakukan. Kesalahan besar karena hidup gue yang tenang jadi berisik seketika. Cewek satu itu begonya enggak nanggung-nanggung dan mulutnya enggak pernah berhenti ngomong. Yang ada di otaknya cuma nari dan malas-malasan. Kemudian, pada satu titik, mendadak aja kehadirannya bikin gue terbiasa.

More details
WpActionLinkContent Guidelines