Teman Halal

Teman Halal

  • WpView
    Reads 41
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 15, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Nafizah Umaya, gadis 18 tahun yang tengah bingung memikirkan bagaimana kelanjutan kuliahnya. "Papah gak mau kamu pergi jauh!, di Jakarta banyak kampus!!" ucap Pak Sultan-Papah Aya. "tapi pah, Aya udah susah payah buat dapetin ini!" Aya benar-benar memohon. "kalo begitu ada syaratnya!" Pak Sultan menatap Aya dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti Aya. kira-kira apa syaratnya yah... yuk baca... Write in : 13 August '18
All Rights Reserved
#45
2018
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • Di Balik Niqab [TERBIT]
  • Assalamualaikum Cinta
  • Anhar's life Story
  • Suck It and See (Complete)
  • Always Be Happy With You Kak
  • Oh, My Sugarman
  • Mas! || ThomasKong✔
  • Paradise
  • Muslim in Love [Selesai]

Aku pernah melangkah penuh percaya diri di kampus negeri, di mana mimpi-mimpi sederhana terasa seolah sudah ada di ujung tangan. Aku aktif, dikenal, dan percaya bahwa masa depan yang cerah hanyalah soal waktu. Tapi ketika ibu pergi, semuanya runtuh tanpa ampun. Sunyi menyelimuti rumah yang dulu penuh tawa, tabungan menguap seperti angin, dan Jati diri terhempas jauh melayang lalu sirna bersama rasa kecewa, Ayah terdiam dalam kebingungan, kehilangan arah yang dulu ia genggam erat. Aku yang muda, yang seharusnya berlari mengejar mimpi, terjerat oleh tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul sendiri. Aku berhenti kuliah, bukan karena kehilangan semangat, tapi karena harus memilih, melanjutkan mimpi yang kian menjauh, atau bertahan untuk keluarga yang runtuh. Hari-hariku berlalu begitu saja, menampung lelah yang tak selalu terlihat, dan pertanyaan tanpa jawaban yang terus menghantui kenapa dunia ini tak selalu berpihak pada mereka yang berjuang paling keras? Aku merangkai kekuatan dari serpihan kehilangan, menenun harapan dari kegelapan yang pekat. Aku berdiri, walau rapuh, karena menyerah bukanlah bagian dari ceritaku. Perjalanan ini belum selesai, dan aku tahu, langkahku harus terus berlanjut, meski dunia kadang membelakangi dan meninggalkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines