Ruang Hampa Kesendirian

Ruang Hampa Kesendirian

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 19, 2018
WpInfo
Non-Fiction
Tagsnovel
Ini bukan sekedar perjalanan pergi. Tapi ini adalah pelarianku yang kesekian kali. Hanya ingin menyembuhkan luka. Hanya ingin menemukan bahagia. Mungkin senyum ini bisa menyembunyikan luka. Tapi dalam hati : sakit , menyesakkan , jatuh , terhempas , tergores. Sebuah luka yang ku alami dalam hati. Ku terusik dalam sebuah kalimat mu. " Aku bagimu bukan siapa-siapa " Hahahaha aneh mata ini bisa berair tanpa sebab dan bibir ini bergetar menahan getir yang sangat.....Sudah, cukup. Ingat wahai mata bukan siapa-siapa. Ingat wahai bibir tak ada cerita. "Ingatkan" hati untuk segera "melupakan" karena ini tentang "bukan siapa-siapa". Sangatta, 14 Agustus 2018 Doni Arya Kusuma Dewa
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pendekar Dari Pajajaran
  • Maina & Maxim
  • »The Love Behind Secrets!
  • Waktu?
  • THANK YOU MAHESA
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • Air Mata Cinta
  • Mahligai Sunyi
  • ANTARA DOA DAN RASA
  • Where am I?

Setiap kerajaan besar menyimpan dua hal yang tak terelakkan: kejayaan... dan keretakan. Di Tarumanagara, pecahan-pecahan itu mulai terasa seperti getar halus di permukaan air-nyaris tak terdengar, tapi menyimpan badai yang sabar. Patih Wilagni tahu: ia sedang berdiri di antara sisa-sisa peradaban yang megah, tapi rapuh. Di usia senjanya, ia hanya ingin diam di beranda, mendengar suara angin dan cucu yang tertawa. Tapi sejarah jarang mengizinkan seseorang pergi tanpa luka. Tuduhan, pengkhianatan, dan dendam masa lalu mendesaknya untuk memilih: diam... atau melindungi yang ia cintai. Aryaseta, putra semata wayangnya, belum sepenuhnya tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah warisan dari masa yang runtuh. Ia masih membaca sastra tua di kamarnya, tidak tahu bahwa namanya sedang ditimbang di ruang-ruang kekuasaan yang tak ia kenal. Dan Santanu, bekas prajurit yang memilih menjauh dari hiruk-pikuk istana, kini harus kembali menakar kesetiaan di atas luka. Di antara rempah-rempah dagangannya, ia menyimpan satu sumpah: agar tak satu pun anak cucunya jatuh ke dalam lingkaran dendam keraton. Lalu, Tarumanagara pun pecah. Dari rahimnya lahir dua anak kandung yang tak lagi saling mengenal: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Satu ingin melanjutkan nama, satunya ingin memulai yang baru. Tapi sejarah tidak pernah bisa ditulis tanpa darah. "Petaka di Tarumanagara" bukan sekadar kisah tentang raja dan perang. Ini adalah narasi tentang perpisahan, tentang keberanian menyelamatkan jiwa meski kehilangan segalanya, dan tentang cinta yang bertahan meski dunia berubah bentuk. Bila kekuasaan adalah lingkaran, maka cerita ini adalah tentang orang-orang yang memilih keluar dari pusaran itu-demi cinta, demi warisan yang lebih luhur daripada tahta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines