Old Story - Do you Remember me?

Old Story - Do you Remember me?

  • WpView
    LETTURE 184
  • WpVote
    Voti 16
  • WpPart
    Parti 15
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione lun, apr 8, 2019
"Bisakah kita bertemu lagi? Sahabat?" Iya, sudah bertahun-tahun lamanya laki-laki dalam bingkai foto itu menghilang dari pandanganku. Aku takut ketika semakin lama, aku mulai melupakannya. Melupakan suaranya yang selalu memanggilku dari seberang jalan ketika kami bertemu di kampus. Aku takut aku mulai melupakan pelukan hangatnya yang selalu menenangkanku. Aku takut ketika aku semakin melupakan senyumannya bahkan gelak tawanya. Kini aku semakin menua. Berjalanpun aku aku sudah tak mampu, entah apa lagi yang Tuhan ambil dariku sebelum akhirnya jiwaku. Sampai sekarang, aku masih merindukannya. Berharap aku menemukanmu. Brengsek! Bisa-bisanya kau pergi dariku seperti itu? Menghilang seenaknya! Aku menyuruhmu untuk menjauhiku itu maksudnya aku ingin kau selalu berada disampingku. Apa kau sebodoh itu sampai tidak mengerti? Lihatlah, sekarang aku akan mati dan kau masih tak mau menemuiku?
Tutti i diritti riservati
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Kuas,Cat dan Cinta
  • Loving in Silence [THE END]
  • Planet Tanpa Nama (18+)
  • Maaf✓
  • Kalau Aku Bukan Lagi Temanmu, Siapa Aku?
  • Tentang Rasa [TAMAT]
  • Ananta Bandhana
  • Sepatu Kaca : Seorang Putri dari Negeri Mimpi

Aku bertemu degannya lagi. Ini sudah lama sekali, cukup lama untuk membuatku canggung untuk menyapanya. Sepuluh tahun yang lalu, aku gadis berkucir dua, dia anak yang berkaca mata. Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah orang yang tidak memperhatikan wajahnya dengan teliti dan sekarang aku menyadari bahwa dia adalah pemuda yang tampan dengan mata yang menarik di balik kaca matanya itu. "Hallo !!" sapaku padanya. Dia menatapku dengan kening berkerut. Aku menjadi lebih canggung lagi karena dia tidak mengenaliku. Aku bukan gadis menarik, aku juga bukan gadis yang pandai mengawali pembicaraan ataupun mengakhirinya. Kalaupun dia mengenali aku, mungkin dia akan pura-pura lupa. "Hallo !" balasnya kemudian dengan senyum yang canggung. "Apa kau masih mengingatku ?" tanyaku dengan tatapan menyelidik ke arahnya. Hujan sore ini menahan dia, aku dan beberapa orang lainnya di depan toko yang tidak kutemukan papan namanya. Aku pindah dari kota ini ke luar negeri sepuluh tahun yang lalu tapi sekarang aku kembali dan temanku tidak mengenaliku lagi. "Kau siapa ?" dia balik bertanya dengan nada yang canggung ke arahku. Sudah kuduga, dia lupa tentangku. Aku menatap sekeliling, aku pasti akan terlihat sangat lucu sekarang. "Aku bukan siapa-siapa, lupakan saja" jawabku dengan santai lalu kuakhiri dengan senyum kecil. Aku lebih suka cara ini, aku tidak akan memaksakan seorang yang tidak lagi mengingatku untuk mengenalimu. Aku lebih butuh seseorang yang akan mengatakan hallo bersamaan denganku karena itu berarti kami saling mengingat. Aku menatap ke langit lagi, hujannya masih belum berhenti tapi aku menjadi orang yang pertama meninggalkan tempat ini.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti