sekrup : monstax!au

sekrup : monstax!au

  • WpView
    Reads 13,656
  • WpVote
    Votes 1,347
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadComplete Tue, Apr 21, 2020
Sekumpulan Pria Rupawan, alias Sekrup. Segerombol mahasiswa kekinian yang gak doyan rokok dan mainin cewek, tapi banyak yang naksir dan bisanya cuma bikin rusuh kosan. "Belum juga saya kubur hidup-hidup itu sekrup!" -ibu kos. "Tengah malem aja brisik banget anjir, lagi ngepet apa gimana sih mereka?" -temen kos. "Saya kira sekrup itu boyben. Tiap masuk kelas saya perhatian mahasiswi tertuju ke mereka, bukan ke saya." -dosen. "Beli es lilin aja ngutang. Untung ganteng." -mamang sayur keliling. "Yaudah iya." -author ### Pada dasarnya sekrup memang tampan dan pada dasarnya buku ini dibuat dalam keadaan ide yang kepepet di tengah kesibukan. Akan berisi curcol gaje a la monstax!au, mengisahkan balada seorang mahasiswa yang makan malam pake nasi bekas sarapan, yang ngutang es lilin si mamang sayur keliling padahal ke warnet main ps, serta cerita hidup mereka dan kawan-kawan. Penasaran? Sama, saya juga. Gak deng. Baca yuk, bab satu menunggu! [ warning : akan banyak sekali mengandung harsh words dan umpatan dalam bahasa Jawa, serta dialog penuh dalam bahasa Jawa yang diberikan translasi di akhir kalimat ] ©2018 by Akino.H
All Rights Reserved
#680
fakestagram
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • How to Survive
  • School Namja yeoja keren (RP)
  • Anathan [END]
  • Istri Sah Ikky [B×B]
  • Seperti Odong-Odong
  • Crush On Bad Girl || Jay

Riri menyibakkan rambut hitamnya, "persediaan makanan kita menipis. Kita gak bisa bertahan terus di sini." "Tempat yang paling deket dari sini, ke mana?" Abil membersihkan kacamatanya dengan ujung hijab yang sudah tak dicuci berhari-hari. "Supermarket di tengah kota," Azura menjawab dingin sambil menatap kedua orangtuanya terkurung di balik pintu kamar mandi. Pupil Bian mengecil. Semua orang tahu apa yang akan menjadi keputusan Abil. Seketika si gadis tomboy berdiri. "Supermarket itu terlalu luas dan bahaya. Jangan tolol! Nyawa kita cuman satu!" Nawa mengangguk cepat, wajah memerah menahan tangis, napasnya memburu, "aku gak mau ke supermarket! Gak! Gak mau!" "Terus mau gimana? Mati perlahan di dalam sini? Mikir dong! Jangan karena takut, kalian milih mati kelaparan. Perlu ada kanibalisme dulu baru mau keluar?" Mata Abil memerah penuh gelora emosi dari balik kacamata yang engselnya patah akibat pukulan Bian minggu lalu. Azura memutar matanya malas, situasi sialan ini membuat semua orang lebih sensitif. "Udah-udah!" Nayara melerai. "Memungkinkan gak kalau kita cek ke rumah-rumah sekitar? Siapa tau Alex di sana masih tingkat 1. Bian bener, supermarket terlalu luas dan beresiko. Kita coba cari dulu di rumah sekitar, kalau gak ada, baru kita ke supermarket." Seketika ruangan senyap mencerna kalimat Nayara yang selalu bisa menengahi perdebatan mereka. "Jadi, guys sekarang mereka masih diskusi-" "LETTA!!" Bentakan teman-temannya langsung menyentak si gadis ikal. "Le, matiin," pinta Nayara sambil memberi tempat kosong untuk Letta. *** Hidup para remaja itu berubah ketika penyakit tidak jelas mulai menjelajah kota Bandung. Hidup berbulan-bulan tanpa orang tua dengan pola pikir yang masih kekanak-kanakan. Bagaimana cara mereka bertahan hidup dengan 7 kepribadian yang saling bertentangan? Bertemu dengan banyak orang dan berbagai kejadian. Merubah masing-masing mereka jadi sosok lain. Berhasilkah mereka bertahan hidup? Atau semua kembali pada keputusan mereka?

More details
WpActionLinkContent Guidelines