Sederhanyanya Pelangi

Sederhanyanya Pelangi

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 19, 2018
WpInfo
Poetry
Memandangmu... Seperti memandang pelangi... ia indah warna-warni.. ... Ketika kulihat lengkunganya... Tiba-tiba terfikir ujungnya... Tp smakin kucari ujungnya smakin takbisa kumenemukanya... Seperti itulah gambaran sederhana memandangmu yg takpernah berujung pada bosan.. . Kau itu bukan pelangi .. Tp indahmu lebih dari kolaborasi warna-warni... Begitu kupandang... Walau sekajap Rasanya takmau lg mataku terpejam.. Kutanya lg pd hati... Apa sebenarnya kekaguman ini.. Dan ternyata... Rasa ini.. Adalah cita-cita ingin memiliki.. ... Hadirmu seperti pelangi... Adanya ia menenangkan hati.. Dan yg sangat q ingin katakan adalah bersedia kah pelangi slalu menemani hari-hariku ini... Tak peduli siang terik ataupun gelap sepi... Smoga saja impianku ini mnjadi yang kau ingini..
Public Domain
#416
puisicinta
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • STAR'SMOON
  • a RAINBOW
  • Lembut Seperti Doa
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • In The Sunrise
  • Secangkir Kopi dan Seutas Rindu [ COMPLETED ]
  • Can You Give Me One More Chanche
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Kamu [SELESAI]✔

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines