Beautiful Things Collapse Quietly

Beautiful Things Collapse Quietly

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 9, 2026
Beberapa hal runtuh dalam diam. Kilasan balik dan kebenaran turut meremukkan identitas yang selama ini dibangun dengan susah payah. Waktu terus berjalan, namun luka yang tampak telah mengering rupanya masih berdarah. Detik demi detik berlalu layaknya bilah tajam yang terus menyayat hati. Masa lalu yang telah terkubur perlahan terkuak dan muncul kembali ke permukaan. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari kenyataan yang sejak awal menuntut penyelesaian. Masing-masing menemukan jalannya pulang. Sebagian menemukan jawaban yang selama ini dicari. Sebagian lainnya retak dan hancur sebab cinta yang tidak pernah menemukan tempatnya.
All Rights Reserved
#2
media
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines