Tama Jayakusuma

Tama Jayakusuma

  • WpView
    Membaca 47
  • WpVote
    Vote 8
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Agt 21, 2018
Kehidupan "Tama Jayakusuma" sangatlah menyedihkan. Pada saat umurnya 5 tahun mendiang ayah tercintanya meninggalkan dirinya,ibu dan adiknya untuk selamanya. Tama tumbuh menjadi anak yang tegar dan kuat menghadapi cobaan,dia lebih suka menderita sendiri ketimbang bercerita dan membagi derita yang dialaminya dengan teman temannya. Hingga akhirnya ibu tama memilih untuk menikah lagi dan tentu bertolak belakang dengan keingin tama,sejak saat itu dia tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Banyak derita yang harus ia hadapi tak hanya didunia nyata,tama juga mendapat gangguan - gangguan dari 'mereka' dari yang ingin meminta tolong,bercerita,sampai yang hanya menakut nakuti saja. Banyak cara yang dilakukan tama untuk menghindar dari 'mereka' hingga pada suatu titik dia bertekad untuk mengusir 'mereka' dari kehidupannya. 'Aku tak pernah merasa bahagia setelah kepergian ayahku. Aku pernah memiliki seorang sahabat yang memang bisa mengerti aku,tapi pada suatu saat dia pergi meninggalkanku. Dan aku semakin merasa hidup ini sudah tak berguna'
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Don't Talk About Money
  • Aksara Rasa
  • Aku Masih Percaya Cinta
  • Seana or Seano
  • Bagian tak berjudul 1
  • Is It Home ?
  • DANADYAKSA
  • Langit Kelabu Milik Ara
  • Tentang Ki-Ta
  • Jika esok Tak Pernah Ada

Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan