Berpisah dengan baik.

Berpisah dengan baik.

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing<5 mins
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 22, 2018
Aku sudah berulang kali meminta maaf, aku mengaku, aku memang salah. Aku salah. Aku hanya ingin kita kembali. Karena apa? Karena sedari awal aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjagamu sebaik mungkin, sebisa mungkin. Tapi dengan satu kesalahan yang ku perbuat semuanya hancur. Sampai aku mengemis kata maaf darimu pun sangat sulit untuk mendapatkannya.Tetapi apakah cinta mengajarkan kita untuk mengemis? Tidak. Kalau kamu memang mencintaiku, kamu takkan pernah membiarkanku sampai mengemis cintamu seperti ini. Mungkin memang sekarang keadaannya telah berubah. Aku sadar betul kamu tidak membutuhkan aku lagi sekarang. Jadi tugasku telah selesai untuk menjagamu bukan? Aku harap ada orang yang bisa menjagamu sebaik mungkin. Tugas keduaku sekarang? Tidak mengemis cinta orang yang tidak menginginkanku kembali. Tugas ketigaku? Aku ingin menata kebahagiaanku sendiri, aku sadar aku bukan siapa siapa dimatamu. Aku seorang anak laki laki rusak yang lemah, yang bersahabat dengan kesepian, perpisahan dan kesedihan. Dan sekarang, waktunya untuk pergi. Ingat, aku sangat menyayangimu hingga detik ini. Doaku untukmu? Masih sama. Aku ingin kau menjadi wanita yang berbahagia. Jikalau kamu merindukanku, panggilah. Panggilah aku. Aku akan menoleh kebelakang dan aku akan mengingatmu dan kenangan kita berdua.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LET ME HATE YOU
  • Anfal's Ibtihaj ✔
  • 𝐈𝐒𝐇𝐐 𝐈𝐒 𝐑𝐈𝐒𝐊
  • Bond To Him
  • Soul || KNY x Reader
  • The Ger Is A Part Timer [BL]
  • Promises That We will Keep

A marriage neither wanted. A hatred neither understands. Two strangers tied by a past that stains everything between them. He never wanted a wife. Especially not her. Cold, distant, and poisoned by assumptions, Amaan enters the forced marriage with one intention- to keep his distance and keep his resentment alive. Asmaira enters with something far heavier- guilt. Not to protect him. Not to save him. But because she knows the truth of what happened... and she cannot bear to confess it. They have never met. But the moment they do, the air turns sharp- full of tension, unspoken accusations, and the kind of hate that feels too much like longing. He despises her for a sin she never committed. She punishes herself for a sin she never confessed. And marriage turns into a battleground where silence is a weapon... and closeness is a threat. In this house, love is impossible. Trust is deadly. But hatred? Hatred is the only thing keeping them alive.

More details
WpActionLinkContent Guidelines