My Destiny!

My Destiny!

  • WpView
    Reads 81,267
  • WpVote
    Votes 1,628
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 16, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Menjadi bergelimang harta tak selalu membuat pemiliknya bahagia. Bahkan terkadang dalam satu waktu di hidupnya, ia berpikir lebih baik bahwa ia menjadi orang yang berkecukupan saja. Menjadi orang kaya membuatnya harus memenuhi tuntutan keluarga ini dan itu. Valleta membenci dunianya, ia merasa rencana semesta terlalu tidak adil untuk orang yang hampir selalu merasakan kebahagiaan. Dulu 'Persahabatan dan Keluarga' merupakan hal yang sangat membahagiakan untuk Valleta. Namun ia tak pernah memperkirakan dunia nya akan hancur berantakan dalam satu malam karena bertemu seorang pria. Di malam ia bertemu dengan Kefas, pria gila yang membuatnya benar-benar hampir gila karena setiap kelakuannya. "Pergi, kubilang pergi ya pergi!!" Valleta tak tahan dengan Kefas, ia menjerit keras. "Hmph, ini semua bukan salahku. Kau saja yang awam di dunia politik, dasar anak manja." Ditulis: 23-08-18
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BarraKilla
  • SEWINDU
  • The Fault
  • BE WITH YOU (END)✔
  • An Angel
  • Our Emergency Calls
  • Alphabet
  • Dear of Natasya
  • KEIRA (Revisi)
  • That's All Cause IFY (END) - Revisi

LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue? Padahal lo yang nembak gue duluan di UKS dengan nggak punya malunya." "...." "Lo itu menyedihkan, Killa. Sangat menyedihkan. Gue selama ini cuma.... kasihan sama elo." "Barra, dada aku sakit." "See? Lo minta dikasihani lagi?" "Maaf." "Dan lo selalu mengatakan maaf biar lo semakin dikasihani." "Barra, kamu beneran mau aku pergi?" "Lo masih mau di sini? Nggak tahu diri banget. Habis ciuman sama suami orang, masih mau sama gue. Karena cuma gue yang bisa ngasih lo segalanya. Gue jijik sama elo." "Makasih, ya, udah mau jadi pacar Killa. Udah mau bahagiain Killa. Hehehe. Kita akhirnya pisah." "Gue nggak mau lihat lo lagi." "Hehehe." "...." "Barrabas Mahesa, makasih udah pernah jadi yang terbaik buat Killa." I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. Titik tertinggi mencintai adalah tahu diri untuk menerima sebuah kehilangan. "Barra, kenapa cara kamu mencintai aku kayak gini?" • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!

More details
WpActionLinkContent Guidelines