We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
MY BAD BOY ICE!

MY BAD BOY ICE!

  • WpView
    Reads 168
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 11, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
"tantangan nya berat Wee, Lo yakin mau Nerima nya?? "Ia bawel apa tantangan nya??" "Lo harus cairkan bad boy ice senior Lo" "What??" •kisah ini menceritakan seorang siswi tomboi yang menerima tantangan nya dari teman nya itu, memang semua tantangan telah dilewati nya dengan mudah namun tidak dengan tantangan satu ini. Ia harus mencairkan bad boy dingin di sekolahnya tersebut. Ia diberi kesempatan 3 bulan untuk tantangan tersebut bila tantangan tersebut tidak dilakukan maka ia atau orang tersayang nya mengalami kisah tragis!!! • wah cerita nya penuh teka teki nih ada yang mau ikut main ndk?? • bukan penulis cuma pengarang saja?"
All Rights Reserved
#8
beruangkutub
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Love Itu SHIT [Revisi Tamat]
  • NAYLA [SLAW UPDATE]
  • Ketua Kelas
  • Sweet Combat
  •  At SKOOL?
  • Ketua Kelas VS Perusuh Kelas [Telah Terbit]
  • Bad Girl vs Ice Boy [PRE-ORDER]✔
  • Gendut!
  • The perfect bad boy

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines