Sheva El-Hazima

Sheva El-Hazima

  • WpView
    LECTURES 222
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Chapitres 7
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., déc. 16, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
"Aku sudah lelah menyampaikan maksud apa mau hati. Aku sudah lelah menjadi pengemis hatimu. Biarkan saja waktu menjalankan tugasnya yaitu menyadarkanmu". Kata Sheva dengan wajah yang menahan tangis. "Ku tau kau perempuan kuat, kau perempuan tangguh yang tak mudah dijatuhkan karena pendirian yang begitu teguh. Jadi kamu tidak berhak mengeluarkan air mata untuk seseorang yang belum halal bagimu". Ucap Raka yang menatap lekat mata Sheva. "Aku biarkan kamu berlalu, agar kamu menyadari siapa yang mencintaimu dengan terlalu". Batin Algara yang melihatnya dari balik pohon.
Tous Droits Réservés
#20
el
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Lentera di Batas Senja (TELAH TERBIT di LOVRINZ)
  • Kutukan Tumbal
  • tentang sebuah rasa
  • Mantan Terindah
  • Ku buat mauxIDR
  • HIJRAH MAHABBAH
  • Story My Love
  • Anta Afdal Tariqati
  • Setelah Koma
  • B͇l͇i͇n͇d͇ ͇W͇o͇m͇a͇n͇ // (selesai)

" Waktumu 5 bulan, selama itu silahkan nikmati hidupmu sebelum kamu merangkak pergi dari hidupku" Ana terdiam, kembali menunduk. Ia sudah menyangka jika ini pasti terjadi. Lelaki itu tidak mungkin bisa menerimanya begitu saja. Tetapi mengapa sayatan didalam sana masih juga terasa ketika mendengar pengusiran secara tidak langsung itu. " Gunakan ATM itu untuk memenuhi apapun yang kamu inginkan. Kamu pasti perlu merayakan keberhasilanmu. Jangan khawatir, kartu itu tidak akan kehabisan isi hanya untuk memenuhi kebutuhanmu" kata Raga Ana menelan Saliva dengan kasar, tenggorokannya terasa dicekik oleh tangan tak kasat mata. " Kamu juga boleh tinggal disini sebelum waktumu habis dan aku akan mengusirmu" Ana menggenggam erat tali tas ditangan untuk menyalurkan kesakitanya. " Beberapa bulan lagi aku wisuda, setelah itu aku akan menikahi kekasihku... Raga menghentikan kalimatnya ketika Ana mengangkat wajah dan pandangan mereka kembali bertemu. Tentu saja gadis itu terkejut dengan kalimatnya, tetapi dia hanya bungkam tidak mencoba untuk menyela ucapannya. " Pastikan... saat itu tiba kamu sudah menghilang dari hidupku, tidak perlu lagi mengacaukan apapun yang akan kembali aku tata. Tempatmu bukan disini, kekasihku lah pemilik sesungguhnya, Kamu hanya dipinjamkan sebentar karena kekonyolan orang tuaku" Raga terdiam sebentar, menghela nafas berulang kali ketika entah karena apa sesak itu terus menerus menyerangnya. " Kebersamaan ini tidak lebih dari sebuah paksaan. Jadi, aku akan melepaskan ketika waktunya sudah tiba. Aku akan menceraikan mu.." " Aku harap... saat itu kamu tidak akan membuatku kesulitan lagi, dan ketika saat itu tiba, mari berpisah dengan benar, saling meninggalkan dan melupakan. Kamu bisa mencari kebahagiaanmu tanpa harus melibatkan aku didalamnya dan aku juga akan menjemput kebahagiaanku dengan kekasihku" tegas raga Dibalik tundukannya, Air mata itu akhirnya terjatuh juga, cukup menggambarkan seberapa kuat kesakitan yang ia terima.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu