6 chapitres En cours d'écriture Arifah, yang dikenal dengan sikapnya yang ceria, mulai merasakan debar aneh setiap kali tatapannya bertemu dengan seorang adik kelas yang misterius. Pertemuan singkat di lorong sekolah, senyum samar, dan pesan singkat menjadi momen kecil yang menghangatkan harinya. Awalnya, itu sudah cukup baginya.
Namun, perasaan itu perlahan tumbuh menjadi harapan akan kedekatan yang lebih nyata. Tanpa ia sadari, sang adik kelas masih terikat bayang-bayang masa lalu yang menciptakan jarak di antara mereka. Kini, Arifah dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dalam hubungan tanpa kepastian, atau mundur sebelum perasaannya semakin dalam dan berujung luka.