"Pa, nggak gitu dong. Masa Papa rela ngirim Neta ke pesantren? Apa kata dunia?" ucap Aneta dengan nada protes, matanya berair menahan emosi.
"Aneta, jangan bikin Papa pusing deh," jawab sang ayah dengan nada tegas, sembari menghela napas panjang. "Untung-untungan kamu nggak Papa coret dari Kartu Keluarga."
"Papa, ih! Aneta nggak mau, pokoknya titik!" seru gadis itu sambil membuang muka, keras kepala seperti biasanya.
Beberapa waktu berlalu...
Dengan suara mantap dan lantang, lelaki itu mengucap:"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha 'alal mahril madzkur wa radhiitu bihi. Wallahu waliyut taufiq."
Ruang itu hening, hanya gema ijab kabul yang masih bergema dalam dada masing-masing. Laki-laki bermata tajam itu tersenyum tipis, begitu samar hingga nyaris tak terlihat.
"Pernikahan ini akan dirahasiakan... sampai waktu yang belum bisa ditentukan," ucapnya pelan, namun pasti.
All Rights Reserved