Sejak Biru Berlalu

Sejak Biru Berlalu

  • WpView
    Reads 5,042
  • WpVote
    Votes 517
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 9, 2018
Bulan. Kota yang jauh. Sungai hitam. Menit yang luntur oleh hujan. Jalan yang tinggal separuh. Batu-batu dari momen beku. Dinding-dinding keruh. Jendela-jendela. Ruang-ruang di baliknya. Kosong. Maka, berlarilah, maut tak seharusnya mengejarmu. Tapi di salju yang mengeras dingin kerap menjauhkan ajal dari pohon-pohon. Dalam sunyi itu tak ada waktu. Tak ada aku juga kamu. Tak ada ruang yang abadi. Hanya sesuatu di balik jendela yang kita tak pernah tahu. Kamu telah sembunyi dan pergi - jauh ke tengah sunyi. Semoga di selah selah lelah, ada yang masih setia menunggu. tak perlu di artikan, itu terserah mereka menunjukanya bagaimana. "Hanya penggalan penggalan kalimat tak bernadi, terlihat kaku namun terwakili, kusam namun sedikit berarti"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ruang Diksi [Completed]
  • KLINIK PUISI (Semoga Lekas Kambuh)
  • DAMIAN
  • Indigo Bobrok [SUDAH TERBIT]
  • Perihku Ditinggalkan
  • BAPER {SELESAI}
  • Mencintaimu Adalah Perang
  • Almost.
  • MY MANJA GIRL [END✔]
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓

#1 - Puisi (2 November 2018) Ini adalah kumpulan diksi yang membutuhkan ruang untuk abadi. Ketika membacanya nanti, mungkin ada banyak hal yang akan kau jumpai. Entah itu perasaan geli, nyeri sampai ke ulu hati, atau bahkan motivasi yang-kuharap-mampu membangkitkan rasa percaya diri. Jadi, apa kamu masih perlu berpikir dua kali untuk membaca buku ini? Kalau begitu, selamat datang di Ruang Diksi! Tangerang, 17 Juni 2018 Copyright © 2018 by hafnikharisma

More details
WpActionLinkContent Guidelines