"Gue tahu ini memang memalukan, tapi gue nggak bisa diem aja liat lo bersikap beda sendiri sama gue dibanding yang lain, seolah gue emang musuh terbesar lo." gadis berjilbab lebar itu menunduk dalam kemudian mendongkak kembali menatap manik hitam pekat yang balik menatapnya tajam.
"Gue tau lo juga diem-diem mulai suka sama gue, tapi lo berusaha menyangkalnya," gadis itu kembali berbicara.
"Lalu apa salahnya sih kalau kita jalanin aja baik-baik. Gue ngomong kayak gini karena gue sadar; walaupun kita sama-sama suka, kalau salah satu dari kita nggak ada yang maju duluan, mana mungkin semesta bisa nyatuin kita. Gue tau lo gak mungkin maju duluan selama gue nggak bertindak." suara gadis itu mulai parau.
"Jadi, lo mau kan berjuang sama-sama bareng gue?" kerongkongan gadis itu serasa lega, namun tidak dengan kondisi jantungnya yang sudah disko sejak tadi.
Pria yang sedari tadi diajaknya bicara mengusap wajah gusar, iris matanya melembut tidak setajam tadi dan sudut bibirnya membentuk bulan sabit samar, namun tidak luput dari penglihatan sang gadis.
Pria dengan garis wajah datar itu masih saja diam, menatap gadisnya dalam yang membuat perempuan itu kikuk dan memutuskan pandangan ke arah lain.
"Neisha," ucap pria itu lembut.
Beberapa detik kemudian gadis itu bungkam, pandangannya kosong, spot jantungnya semakin tidak karuan lalu setelah si pria pergi, senyuman tipis tercetak di bibir gadis itu sembari memegang dadanya.
.
.
.
Kira-kira, apa jawaban yang diberikan kepada gadis yang selama ini selalu mengganggu, mengusili, dan kerap kali menyebutnya "Calon Imam"?
"Heh! Lo mau mati? Lo ga liat ada mobil tadi?!" pertanyaan sarkas itu terlontar dari seorang gadis dengan Hoodie hitam kebesaran dan rok biru yang ia kenakan.
Anak laki laki itu terduduk di bahu jalan tidak menjawab apapun dia hanya menatap gadis itu parau, gadis itu berdecak melihat lelaki yang ia tolong diam saja bahkan tidak bergerak.
"Ck,malah diem. kalo di tanya itu jawab." kesalnya, ia berbalik mengambil payung yang sebelumnya ia lempar karna menyelamatkan laki laki itu. Berjalan lagi ke arah laki laki itu dan memberikan payungnya berwarna kuning padanya,
Laki laki itu mendongak melihat wajah gadis itu.
"Nih ambil, muka Lo udh kaya mumi tau!" katanya dengan mengambil tangan lelaki itu untuk menyuruhnya memegang payungnya.
"Gue ga butuh ini." jawab lelaki tersebut akhirnya membuka suara.
"Udah ambil!" balasnya memaksa.
"Tap-" katanya terpotong
"gue mau balik!, Lo jangan lakuin hal bodoh itu lagi! nanti yang di atas marah." katanya sembari mengarahkan telunjuknya ke atas dan berbalik menerobos hujan.
Lelaki itu tertegun mendengar ucapan gadis itu ia terus menatapnya sampai punggung nya tidak lagi terlihat dan beralih pada payung yang gadis itu berikan dan tanpa ia sadari seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Lelaki itu pun mulai berjalan kearah sebaliknya dengan memakai payung itu.