Story cover for Genie by AsihSugiarti
Genie
  • WpView
    Odsłon 90
  • WpVote
    Głosy 17
  • WpPart
    Części 5
  • WpView
    Odsłon 90
  • WpVote
    Głosy 17
  • WpPart
    Części 5
W trakcie, Pierwotnie opublikowano wrz 08, 2018
"Gue tahu ini memang memalukan, tapi gue nggak bisa diem aja liat lo bersikap beda sendiri sama gue dibanding yang lain, seolah gue emang musuh terbesar lo." gadis berjilbab lebar itu menunduk dalam kemudian mendongkak kembali menatap manik hitam pekat yang balik menatapnya tajam.

"Gue tau lo juga diem-diem mulai suka sama gue, tapi lo berusaha menyangkalnya," gadis itu kembali berbicara. 

"Lalu apa salahnya sih kalau kita jalanin aja baik-baik. Gue ngomong kayak gini karena gue sadar; walaupun kita sama-sama suka, kalau salah satu dari kita nggak ada yang maju duluan, mana mungkin semesta bisa nyatuin kita. Gue tau lo gak mungkin maju duluan selama gue nggak bertindak." suara gadis itu mulai parau. 

"Jadi, lo mau kan berjuang sama-sama bareng gue?" kerongkongan gadis itu serasa lega, namun tidak dengan kondisi jantungnya yang sudah disko sejak tadi. 

Pria yang sedari tadi diajaknya bicara mengusap wajah gusar, iris matanya melembut tidak setajam tadi dan sudut bibirnya membentuk bulan sabit samar, namun tidak luput dari penglihatan sang gadis. 

Pria dengan garis wajah datar itu masih saja diam, menatap gadisnya dalam yang membuat perempuan itu kikuk dan memutuskan pandangan ke arah lain. 

"Neisha," ucap pria itu lembut.

Beberapa detik kemudian gadis itu bungkam, pandangannya kosong, spot jantungnya semakin tidak karuan lalu setelah si pria pergi, senyuman tipis tercetak di bibir gadis itu sembari memegang dadanya. 
.
.
.

Kira-kira, apa jawaban yang diberikan kepada gadis yang selama ini selalu mengganggu, mengusili, dan kerap kali menyebutnya "Calon Imam"?
Wszelkie Prawa Zastrzeżone
Zarejestruj się, aby dodać Genie do swojej biblioteki i otrzymywać aktualizacje
lub
Wytyczne Treści
To może też polubisz
Vericha Aflyn ✔️ autorstwa Icacty_
58 części Zakończone
#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"
Amor Almira autorstwa ZuwitaArcen
35 części Zakończone
Dalam hidup, kita bertemu dengan banyak orang. Tapi hanya sedikit yang mampu mengguncang dunia kita, mengubah arah hidup, dan meninggalkan jejak di hati. Ini adalah kisah tentang dua dunia yang bertabrakan-tentang gadis baik yang jatuh cinta pada laki-laki yang katanya nggak pantas dicintai. Almira Anjani Wirasti, gadis ceria dengan hati selembut senja, tak pernah menyangka bahwa pertemuan singkat di bawah pohon rindang akan mengubah hidupnya. Ia hanya ingin menolong. Tapi dari sentuhan pertamanya, ia malah menemukan luka yang lebih dalam dari sekadar goresan di kulit-luka yang tersembunyi di balik dinginnya tatapan seorang Amor Antariksa Setiawan. Amor bukan tipe pria yang mudah didekati. Kasar, tertutup, dan penuh misteri. Tapi siapa sangka, di balik sikap cueknya, ada hati yang lelah... dan mungkin, hanya butuh seseorang yang cukup nekat untuk mengetuk pintunya. > "Lo nggak takut deketin orang kayak gue?" tanya Amor suatu sore, suaranya serak, tatapannya kosong menatap langit. Almira menghela napas pelan, menatap lukanya, lalu menjawab tenang, "Yang gue takutin bukan lo... tapi kehilangan kesempatan buat bikin lo bahagia." Amor terdiam. Tak ada yang pernah bilang hal seperti itu padanya. > "Gue bukan orang baik," gumamnya. "Gue cuma... rusak." "Nggak ada orang yang terlalu rusak buat dicintai," bisik Almira, menatap matanya yang penuh luka. "Lo cuma belum pernah dikasih alasan buat percaya." Dan sejak hari itu, perlahan-tanpa mereka sadari-dunia yang kelabu mulai berubah warna. Ini bukan kisah cinta biasa. Ini tentang keberanian mencintai seseorang yang hancur. Tentang bagaimana cinta bisa mengubah arah hidup, menyembuhkan luka lama, dan menciptakan harapan baru. Karena kadang... yang kita butuhkan bukan orang sempurna. Tapi seseorang yang bersedia tetap tinggal, bahkan ketika kita merasa tidak pantas dicintai.
To może też polubisz
Slide 1 of 10
ARTEMIS cover
Sweet Combat cover
AFIKA [ END✔ ] cover
Vericha Aflyn ✔️ cover
serpihan hati cover
troublemaker VS ketos! ✔ cover
Amor Almira cover
[Bukan] Couple Goals [SUDAH TERBIT] cover
ARTAN  cover
LIEUTENANT RIYYADH ISKANDAR (End) cover

ARTEMIS

20 części W trakcie

"Heh! Lo mau mati? Lo ga liat ada mobil tadi?!" pertanyaan sarkas itu terlontar dari seorang gadis dengan Hoodie hitam kebesaran dan rok biru yang ia kenakan. Anak laki laki itu terduduk di bahu jalan tidak menjawab apapun dia hanya menatap gadis itu parau, gadis itu berdecak melihat lelaki yang ia tolong diam saja bahkan tidak bergerak. "Ck,malah diem. kalo di tanya itu jawab." kesalnya, ia berbalik mengambil payung yang sebelumnya ia lempar karna menyelamatkan laki laki itu. Berjalan lagi ke arah laki laki itu dan memberikan payungnya berwarna kuning padanya, Laki laki itu mendongak melihat wajah gadis itu. "Nih ambil, muka Lo udh kaya mumi tau!" katanya dengan mengambil tangan lelaki itu untuk menyuruhnya memegang payungnya. "Gue ga butuh ini." jawab lelaki tersebut akhirnya membuka suara. "Udah ambil!" balasnya memaksa. "Tap-" katanya terpotong "gue mau balik!, Lo jangan lakuin hal bodoh itu lagi! nanti yang di atas marah." katanya sembari mengarahkan telunjuknya ke atas dan berbalik menerobos hujan. Lelaki itu tertegun mendengar ucapan gadis itu ia terus menatapnya sampai punggung nya tidak lagi terlihat dan beralih pada payung yang gadis itu berikan dan tanpa ia sadari seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Lelaki itu pun mulai berjalan kearah sebaliknya dengan memakai payung itu.