Days Without You

Days Without You

  • WpView
    Reads 72
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 26, 2019
Kehadiran tetangga barunya, membuat Faren merasa sedikit terusik. Bukan, bukan dia tidak menyukai tetangga barunya itu. Bukan fisiknya yang terusik. Namun, hatinya yang terusik. Karena tanpa disadarinya, ia telah menjatuhkan perasaannya kepada tetangga barunya itu. Berulang kali ia mencoba menyangkal akan hal itu dalam dirinya karena ia tidak boleh sampai menaruh perasaan lebih kepada tetangga barunya. Ada sebuah dinding yang tak bisa ia tembus. Lagipula, ia sudah menetapkan hatinya pada satu orang. Jadi,bukankah salah jika dia sampai menyabangkan perasaannya itu? Tapi, apa juga salah jika perasaan itu hadir dalam dirinya? "Now I know, which one the good of our leaf, although that is the days without you, cause God will make the best future for us." ~Alisha Faren Rifany Days Without You™ ~Mizu-chan♡
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Our Times (Completed)
  • DEAR ANNETHA
  • Sakit? |✔
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • Buku Harian Haryan
  • ARFANAZ (COMPLETED✓)
  • SALAH RASA (TAMAT)
  • The Cruel Boy
  • Cold Boyfriend [Ending]

TEEN FICTION Waktu... Setiap apa yang kita lakukan pasti akan selalu kita ingat, baik yang senang maupun sedih. Terkadang diri kita egois ingin mengingat hal yang membuat kita senang, terkadang juga diri kita egois berlarut-larut mengingat hal yang membuat kita sedih. Waktu... Yang menemani lika-liku kehidupan kita tanpa bisa diputar kembali walaupun kita bersikeras dengan berharap kalau saja waktu bisa diputar kembali. Waktu... Yang dapat membuat orang yang kita sayangi ternyata pergi, orang yang kita percaya ternyata berkhianat, orang yang kita anggap keluargapun nyatanya berubah menjadi orang asing. Fara Eisha, seorang siswi SMA biasa yang menjalani manis pahitnya kehidupan ditemani oleh penghias cerita yang datang silih berganti, yang memainkan perasaannya dengan apik. Dan berlomba-lomba dengan waktu mencoba untuk memecahkan masalah yang sedang menerornya. Entah dari siapa, sepertinya orang itu senang membuat Fara menampilkan raut wajah gusar, gelisah. Bisakah Fara melalui masalah tersebut? atau menyerah akan ketidakberdayaannya? **** *masih amatiran but I'll try my best dan ini murni pemikiran sendiri

More details
WpActionLinkContent Guidelines