Story cover for AGATHA by TaniaSitepu
AGATHA
  • WpView
    LECTURES 41
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Chapitres 1
  • WpView
    LECTURES 41
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Chapitres 1
En cours d'écriture, Publié initialement sept. 09, 2018
Clauditha merupakan anak baru di SMA Pelita.
Ditha wanita cantik dengan wajahnya yang memepesona dan sikapnya yang cerewe bertemu dengan Haga si ketua anak basket sekaligus ice boy di SMA Pelita??
Lelaki itu?? 
Pintar?? Iya jenius mungkin
Tajir?? Melintir bahkan
Ramah?? Mungkin tidak

Mereka dipertemukan dengan hal sangat tidak menyenangkan, tetapi apakah peristiwa itu yang membuat mereka bersatu??
Tous Droits Réservés
Table des matières

1 chapitre

Inscrivez-vous pour ajouter AGATHA à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
Rindu Senin Pagi, écrit par Rizardila
25 chapitres Terminé
Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.
(TERSEDIA DI INNOVEL/DREAME] G E V A N C I A || END ✔, écrit par Irma_nur_kumala
11 chapitres Terminé
(BISA DIBACA DI INNOVEL/ DREAME Akun irma_nur_kumala ) G E V A N C I A - You're the Trouble-maker , i'll get it done - Gevancia Rosiebell - Hidupnya kacau setelah ibunya pergi dari rumah dan ayahnya membencinya. Sejak itu berusaha untuk mengandalkan dirinya sendiri. Sangat tertutup dan memberi garis keras siapapun yang berniat masuk ke wilayah pribadinya. Sampai seorang cowok badboy selengean dengan pesona segudang tapi tukang paksa menerobos masuk ke dalam hidupnya. - Giovani Arnold Aksara - Badboy, Cassanova , pemimpin tawuran sekolah , fansnya berlimpah, tukang bolos, emosional tapi ngak pernah punya pacar apalagi gebetan. Hanya mamanya, perempuan yang paling penting dalam hidupnya. Sampai manik matanya bertatapan dengan mata hazel seorang cewek cantik yang rapuh tapi dipaksakan untuk kuat yang penuh masalah membuatnya penasaran tingkat dewa. ========================================================================== Bagaimana kalau pesona badboy selengean itu malah membuatnya terseret ke dalam semua masalah yang di timbulkan oleh Gevancia ? "Elo harus tahu, gue bukan tipe cowok yang berhasil diganggu ketenangannya dan elo bisa bebas begitu aja. Gue terlibat sampai akhir, My little monster." - Giovani Arnold "Gue bukan tipe pembuat masalah, gue hanya cewek yang hidup dengan banyak masalah sejak dulu. Elo bukan superhero dan itu artinya elo harus jauh-jauh dari gue !!!" - Gevancia Rosiebell. -- G E V A N C I A -- Rank # 94 23/11/17 # 91 25/11/17 # 73 02/12/17 # 84 12/12/17 #436 28/09/17 #286 30/09/17 #232 30/09/17 #311 03/10/17 #293 03/10/17 #198 04/10/17 #188 06/10/17 #159 09/10/17 #234 12/10/17 #212 13/10/17 #204 14/10/17 #190 15/10/17 #188 15/10/17 #184 16/10/17 #120 17/10/17 #170 19/10/17 Copyright © 2017 G E V A N C I A BY IRMA NUR KUMALA
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 10
Rindu Senin Pagi cover
Tiger And His Soul Mate cover
AGGA cover
RAKASYA [TERBIT] cover
SEGARA(END) cover
LEITHLEACH cover
Aku Ingin Bermain Sekali Lagi cover
(TERSEDIA DI INNOVEL/DREAME] G E V A N C I A || END ✔ cover
Mari Saling Bicara cover
DION DAN GABRIEL (BXB)  cover

Rindu Senin Pagi

25 chapitres Terminé

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.