IMAGINATION

IMAGINATION

  • WpView
    Membaca 39
  • WpVote
    Vote 16
  • WpPart
    Bab 5
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Jul 2, 2019
Kehidupan yang menyedihkan, hanya hidup bersama sang nenek di rumah yang terbuat dari rajutan bambu dan bantal yang keras. Namun itu tak menyurutkan semangatnya untuk bekerja dan bisa membahagiakan sang nenek. Lulus sekolah langsung bekerja sebagai waiter disalah satu tempat club malam, dan itu ia lakukan demi menghidupkan neneknya yang hanya bekerja sebagai buruh cuci. Penghasilan pun tak cukup, dan itu membuatnya harus mencari kerja agar lebih giat lagi. Namun siapa sangka jika ada seseorang yang menawarkan pekerjaan dengan gaji berlipat-lipat ganda dari pekerjaannya di club malam. Tentu saja itu membuatnya langsung tertarik. Di rumah bernomor 22, di sanalah dia bekerja. Hanya sebagai pelayan khusus untuk nyonya besar yang berada di sana. Siapa yang tidak tertarik? Namun di balik pekerjaannya, ia selalu dimatai-matai oleh seseorang yang berada di rumah bernomor 22 tersebut, siapa dia? apa maksud dan tujuannya? "Al." panggilan itu, suara itu. "Al." panggilan itu lagi, hanya ada satu orang yang memanggil panggilan khusus itu untuknya. Siapa? "Al." Aleysia menoleh. Badannya terasa kaku dan keluh, tidak ada lagi kekuatannya selain dia, dia yang memanggil Aleysia dengan sebutan Al. Aleysia memukul kepalanya kemudian menjatuhkan diri.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#175
crying
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • ALYA
  • Alenara; Living in a Fairy Tale
  • I Don't Understand
  • TAKDIR ALYA
  • Sudut pandang (felisha)
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • Stay (Away)
ALYA

Alya melangkah menuju sekolah dengan langkah pelan. Jalanan pagi itu sepi, hanya suara burung berkicau yang menemani. Biasanya, ia akan berangkat lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan, tapi hari ini hatinya terasa berat. Sesampainya di sekolah, suasana berbeda jauh dari rumahnya. Di sini, Alya bukanlah anak yang diabaikan. Ia dikenal sebagai murid berprestasi, ketua klub sains, dan siswa yang sering membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Teman-teman dan guru-guru menghormatinya. Saat ia memasuki kelas, seorang temannya, Dinda, langsung menghampirinya. "Alya! Kamu udah siap buat ujian hari ini? Kayaknya ini bakal susah banget!" kata Dinda panik. Alya tersenyum kecil. "Aku sudah belajar semalam. Semoga saja bisa mengerjakan dengan baik." Dinda menghela napas. "Duh, enak banget jadi kamu. Pinter, rajin, selalu menang lomba. Orang tuamu pasti bangga banget, ya!" Ucapan itu membuat senyum Alya menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa tidak peduli berapa banyak piala yang ia menangkan, orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli? Alya hanya tertawa kecil. "Iya, semoga saja." Gmn kelanjutan nya? Langsung baca aj yaa See you, semoga suka sama ceritanya >_- Dilarang keras plagiat karya gw⚠️

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan