PELITA untuk BIAN

PELITA untuk BIAN

  • WpView
    Reads 505
  • WpVote
    Votes 43
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 22, 2019
Berawal dari keinginan Biandika Dwi Aryana untuk melamar pacarnya yang sudah menjalin hubungan dengannya selama 9 tahun sejak putih biru menempel di badan. Keinginannya untuk melamar di Coffee shop yang bernuansa klasik dengan lampu remang, berniat memasukkan cincin diantara kue pesanan, dan berniat menjadi pelayan pura-pura untuk melancarkan aksinya. Namun apa daya semua yang sudah dirancang sedemikian rupa harus batal akibat ketidaktahuan dari Bintang Pelita, wanita polos yang baru berusia menginjak 18 tahun, merantau dari kota nan jauh di sana. Berawal dari mimpi yang ingin sukses dan jauh dari keluarga, mendapat suami orang luar yang baik dan tampan. Namun nyatanya mimpi itu tidak lah sesimple yang dia pikir. Akibat kelalaiannya dan kelancangannya hingga membuatnya berurusan dengan Bian. Dengan santainya perempuan dengan panggilan Pelita itu menjawab dan membentak Tamara selaku pacar Bian, mengomentari pakaian pacar Bian yang dirasa tidak pantas, dan berdebat akan hal yang menyulut emosi. Bagaimana kisah klasik mereka yang berakhir fantastik ini? Mari simak😊 Second story
All Rights Reserved
#18
sitiumrotun
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • Selalu di Hati (Sudah Terbit)
  • (LENGKAP | SELESAI REVISI) Hello... Dudaku... (Sequel Off M.Gant)
  • Hijrahku Menamukanmu (Takdir Terbaik)
  • Dibalik Topeng Casanova
  • SUNSHINE
  • Pregnant with Rebel Prince
  • Kekasih Halalmu [SUDAH TERBIT]
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • REVENGE AND CHAOS [AU]

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines