Rasa
  • WpView
    Reads 421
  • WpVote
    Votes 80
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 14, 2022
WpInfo
Non-Fiction
Aku mencoba mengais kisah dalam setiap rasa, tak ada keinginan untuk merangkainya hanya saja hatiku tergerak untuk mengungkapkan. Meski tak secara langsung, aku perlu melerainya dalam tulisan ini untuk sekedar dibaca maupun dipahami. Jangan salahkan jika tak terdapat sesuatu hal yang spesial, bagiku kisah itu sangat berarti selempeng apapun itu biarkan aku menuliskannya. Dariku, jiwa yang salah
All Rights Reserved
#351
memory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hujan dan Sebuket Dandelion
  • Meninggalkan Tanpa Pamit
  • The Last Birthday With You
  • Love Triangle ( Cinta Segitiga) COMPLETE
  • Not As Sweet As Sugar
  • HUJAN TERAKHIR YANG MEMBAWAMU PERGI
  • ngger adalah vandyku
  • Rainy Day (complete)
  • Bukan Salahnya Hujan (Completed)

Ini tentang keluarga. Juga tentang hujan yang indah. Seperti halnya Naradra Carolina Abastra. Penyuka kaos oversize juga celana training yang sedikit kepanjangan. Gadis biasa-biasa saja dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Ketika rintik-rintik hujan saling berjatuhan hingga berubah deras. Dia selalu ada untuk melihatnya menyambut bumi. Menciptakan suara melodi yang indah, dibalik awan gelap. Begitu juga dengan bunga dandelion, indah dengan caranya sendiri. Terbang bebas tanpa takut terlihat berbeda. Karena itu Nara suka dengan keduanya. Namun kekakuannya hanya satu, yakni seorang Damantara Gusti Pangestu. Lelaki dengan rambut kecoklatan dan kacamata bulat yang bertengger sempurna menghiasi wajahnya. Bukan laki-laki culun juga berandal. Gusti selalu berhasil menjungkir balikkan hatinya. Dengan mata hitamnya yang memikat. Sayangnya, dia bergerak untuk sebuah rahasia kelam. Namun, jika waktu terus mengikis rahasia yang selama ini mereka tutup. Apakah Tuhan masih memberi kesempatan untuk bersama? Atau justru mereka sendiri yang akan pergi, meninggalkan jejak yang kian dalam? __________________________________________________ Gusti menghela napas. "Mau tau sesuatu?" matanya menatapku begitu serius. "Sesuatu?" Laki-laki itu mengangguk. "Tentang semua ini, yang mungkin buat lo risi?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines