Fajar dan Senja

Fajar dan Senja

  • WpView
    LECTURAS 99
  • WpVote
    Votos 9
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, sep 25, 2018
WpInfo
Ficción
Romance
Hal-hal penting di dunia ini selalu terjadi secara kebetulan. Senja adalah seorang gadis berumur delapan belas tahun yang tidak mengerti banyak hal. Satu hal yang benar-benar ia mengerti adalah tidak ada satu orang pun di dunia ini yang benar-benar mau menjadi sapuan angin yang menenangkan atau menjadi temaram bulan sabit yang mengisi relung hatinya. Setiap malam, bermandikan cahaya di padang bintang, ia selalu bersedih dan mengadu kepada siapapun yang ada di atas sana. Namun, yang ia temui di hari selanjutnya hanyalah fajar yang sama ketika orang tua tirinya menganggapnya sebagai "batu kerikil di dalam sepatu". Sampai ketika sepatu merah miliknya dikencingi oleh musang milik Fajar, hari-hari yang sebelumnya ia anggap sebagai tong kosong yang berputar tanpa arah, menjadi hari-hari yang ia tidak ingin matahari terbenam di dalamnya. Dan tak ada satu setan pun yang tahu, bahwa kejadian tersebut akan menjadi sebuah awal dari kisah cinta yang penuh dengan teka-teki.
Todos los derechos reservados
#17
retorika
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Capricorn
  • THE CLIMB [Completed]
  • Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)
  • BROKEN HEART [END]
  • Amor Almira
  • Liberosis
  • Aksara Lingga
  • FAJAR- The Sun After Set
Capricorn

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido