Because of a guitar

Because of a guitar

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 30, 2018
WpInfo
Non-Fiction
Ini aku dengan kesendirianku... Kalian tahu aku benar benar sendiri di dunia ini... Ku hidup sendiri... Teman teman ku menjauhi ku... Aku tidak punya siapa siapa disini... Aku bekerja sendiri.... Menghabiskan waktu di kamar kosan sendiri... Memasak untukku sendiri... Semuanya sendiri... Ku merasa kesepian... Ku takut... Ku bosan... Namun apa daya? Aku hanyalah aku seorang wanita yang ditinggalkan begitu saja oleh semua orang tanpa sebab... Ku merasa putus asa... Untuk apa ku hidup?.. Untuk apa?... Apa kalian tahu untuk apa aku hidup?... Sahabat ku merebut semua yang ku impikan... Sekali lagi... Ku kesepian... Ku benci situasi seperti ini... Hingga akhirnya dia datang seseorang yang hanya ada di anganku datang untuk menjadi sosok pelengkap ku... Untuk mu terima kasih...
All Rights Reserved
#67
rico
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Be Mine [COMPLETED]
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Perjalanan Cintaku...
  • Full Of Scratches
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Cerita Tentang Kita
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • Kamu [SELESAI]✔

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines