NEOERA
Lampu sorot itu tidak pernah peduli seberapa banyak air mata yang jatuh di balik panggung. Di bawah pijar lampu tungsten yang panas, hanya ada dua pilihan yaitu bersinar atau memudar.
Bagi sebagian orang, musik hanyalah deretan nada yang terdengar di radio. Namun bagi mereka berempat, musik adalah napas buatan. Musik adalah satu - satunya tempat di mana suara cacian teman sekelas berubah menjadi melodi dan kemiskinan tidak lagi memiliki aroma minyak goreng yang menyengat.
Di sebuah sudut sempit ruang latihan yang pengap, empat pasang sepatu kets yang sudah usang bergerak serempak. Napas mereka memburu, membelah keheningan malam di gedung SMA Pelita Harapan yang sudah sepi. Mereka tidak memiliki panggung megah, hanya pantulan bayangan di kaca jendela yang buram.
Mereka tahu, dunia tidak sedang berpihak pada remaja - remaja seperti mereka. Dunia ingin mereka tetap diam, tetap kecil, dan tetap berada di jalur yang sudah ditentukan oleh nasib. Namun, jauh di dalam dada ada sebuah detak yang lebih kencang dari ketakutan mana pun.
Ini bukan sekadar cerita tentang mengejar ketenaran. Ini adalah cerita tentang pelarian, pengkhianatan dan sebuah janji untuk menciptakan era baru.
Sebuah era yang mereka sebut, Neoera.
Abgeschlossene Geschichte