MAAF
  • WpView
    Reads 7,448
  • WpVote
    Votes 643
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 6, 2019
WpInfo
Fanfic
Berawal teman belajar. Mempertemukan Ali dan prilly. mengikat keduanya dalam sebuah rasa. Bukanya usaha tidak akan membohongi hasilnya? tapi apa yang didapat? kegigihannya dibalas luka. "maaf kan aku. kamu terlalu jauh melangkah. lebih baik kamu berhenti sebelum semakin tersakiti. tolong jangan sakiti diri kamu sendiri. BERHENTILAH" pekiknya dengan air mata yang luruh deras.
All Rights Reserved
#261
terluka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dia Bahagiaku
  • Asing
  • SCENARIO TUHAN
  • I Don't Understand
  • CERITA KITA
  • Stay (Away)
  • secretary and ceo fierce
  • Hanya Denganmu (PENDING)
  • BAM (Betapa Aku Menyesal) {END}

Prilly merebahkan dirinya di kasur yang sudah sepuluh tahun ia tinggalkan ke Amerika. Dia rindu bermain dengan Alan. Tetangga samping rumahnya yang dulu sering bermain dengan dia. Tapi, yang sebenarnya Prilly rindukan adalah kembaran Alan. Dari kecil, ia tidak pernah mau diajak main bersama. Sampai terakhir, dia ingin mengatakan iya menerima tawaran Prilly tapi dia urungkan karena tiba-tiba Alan datang. "Pril, ayo ke rumah Om Marafa."panggil Airi, bunda Prilly. "Wahh... Prilly makin cantik aja."Nura, mama Alan berkata ketika keluarga Prilly sampai di rumahnya. "Makasih tan."Prilly. "Prilly??"Alan berlari memeluk Prilly. "Hai Lan?" "Lho, anak kamu yang satunya mana?"Tanya Izama, ayah Prilly. "Dia jadi berandalan Za. Dia nggak pernah dengerin aku lagi."Marafa. Izama hanya mengangguk. Dia tahu, sebenarnya Rafa yang tidak pernah mendengarkan si kembar yang satu lagi. Memang benar, Prilly dekat dengan Alan tapi dia dekat dengan si kembar satunya. Anak itu sering menangis dipelukannya dan cerita kalau ayah dan bundanya selalu pilih kasih. Dia tidak sepintar Alan, dia tidak pernah bisa dibanggakan karena nakal dan selalu bikin ulah. Tapi Izama lebih menyukainya, karena dia memiliki skill beladiri yang tinggi, pendengaran dan penglihatannya sangat sensitive, Izama berencana menjadikan dia penerusnya di bidang sniper dalam satuan KOPASSUS. "Ali, kamu darimana?"Rafa mulai emosi. "Sekolah, Ali kan pakai seragam, ohh... atau ayah nggak pernah merhatiin Ali, basi."Ali hanya berdiri diam, tidak menoleh sama sekali. "Kok bajunya kotor gitu Li? Kamu berantem lagi?" "Apa peduli bunda sih? Anak kesayangan bunda Alan kan? Ali nomor terakhir, cuma sampah yang seharusnya dibuang."Ali berjalan ke kamarnya. Ini cerita pertamaku, tolong dibaca ya? kalau suka silahkan di vote, kalau ada kekurangan silahkan di coment, terimakasih semua.

More details
WpActionLinkContent Guidelines