ALPHA (on hold)

ALPHA (on hold)

  • WpView
    Reads 1,941
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 1, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
" Kak...oooo kak" plastik yong tau foo yang dibeli aku tadi diletak atas meja depan. Aku menaiki tangga ke tingkat atas untuk melihat bilik kakak. Pintu bilik kakak kelihatan separa terbuka. Lampu pun terbuka tapi tiada kelibat. Berak ke minah ni. Tandas kosong pula. Aku melangkah masuk dalam biliknya. Sebuah diari hijau tua bercorak bunga emas diatas mejanya terbuka dan tersisip beberapa nota dan envelope. Curiosity aku membuak melihat diari yang seolah sengaja mencari orang degil seperti aku untuk menelaah. Kakak takde pun kan. Tengok lah sikit. Ish privasi orang ni. No no. Tapi sekeping nota menangkap mata aku. Aku ambil sticky note hijau kecil itu. "untuk adik, diari dan nota nota ini akak tinggalkan untuk adik mengenali dunia sebenar diluar sana. Good luck! Ganbatte~ Love, mardiah."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stuck In Memories
  • MRS ZAQEEF ELDIAN (C)
  • THE SPLIT : BRAHMS
  • Lamaran Luth Ruzain
  • Tercipta Untukku
  • Personal Assistant
  • [COMPLETED] Acis Suka Ona Laa!
  • MR LUTH: AKU BUKAN MALAIKAT |NOVEL|
  • [ completed : M ] Our 25ths : Book I

Seketika ingatanku terjebak pada harapan bodohnya. Ketika kami duduk berdampingan pada malam yang kelam benderang : "Nanti kalo udah jadi arsitek beneran, gue bakal rancang rumah mini gue disini. Rumah beratap rumbia yang ada cerobong asapnya. Lantai marmer dan dinding dilapisi cat pastel anti air plus taman baca berbentuk daun teh. Klop banget". Peter menyampaikan impiannya itu dengan gerakan tangan, seolah-olah ia benar-benar merancangnya. Langsung saja aku menepuk lembut pipi kanannya. "Itu proyek gue, ya maksudnya rancangan proyek gue kalau kita udah nikah nanti" Ujarnya lagi membetulkan "What a strange project" Responku singkat. Kami tertawa berbarengan. Sejenak kemudian kami sama-sama diam. Di malam yang dingin dan pemandangan yang menakjubkan itu, aku bersyukur beberapa kali diberi kesempatan untuk bisa bersamanya dan berharap esok akan tetap seperti ini. Bahkan lebih dari sekedar malam ini, esok dan seterusnya pun akan menjadi milikku dan dia. Entah dipikirannya sama denganku atau tidak, seperti yang ia katakan, spesial itu adalah ketika kita bersama orang yang kita sayangi dalam kondisi sesulit apa pun. Itu tepatnya. Dan, yang sekarang aku pinta hanya ingin dia hadir disini. Merencanakan mimpi-mimpi bodohnya lagi. Tapi, apa masih bisa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines