Matahari
  • WpView
    Reads 162
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 19, 2019
Sebelumnya aku merasa menjadi gadis yang sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat harmonis. Aku memiliki ayah dan bunda yang sangat perhatian, dua orang kakak laki-laki yang sangat posessive dan dua adek perempuan yang membuatku merasa dicintai walaupun aku sadar aku memiliki memori yang hilang dimasalalu tapi aku tidak peduli. Tapi semakin kesini memoriku sedikit-sedikit mulai kembali, dan membuatku yakin aku bukan bagian dari keluarga firdaus. Tapi aku takut untuk menanyakan kepada mereka tentang memoriku yang mulai kembali ini, siapa orang-orang yang ada di ingatanku ini. Aku takut kejelasan hanya akan membuat mereka membuangku, aku tidak mau itu semua. Dan aku hanya ingin bebas hidup normal seperti orang lain, tanpa harus rutin ke psikiater seperti ku. apa gadis gila ini tidak boleh mempunyai kehidupan seperti orang normal pada umumnya? apa kalian pikir gadis sepertiku tidak berhak untuk merasa bahagia? tapi ketahuilah, aku terus berusaha untuk keluar dari masa-masa kelam dan aku harus menerima kenyataan kalau memang itu semua benar. Sekarang pelan-pelan aku berusaha mandiri, membiasakan diri untuk hidup sendiri dan itu dimulai dengan aku ikut yani terbang jauh ke daerah sumatra. Disini aku memulai semua. Matahari Naeva Prasetyo 01 Oktober 2018
All Rights Reserved
#622
perjalananhidup
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • The Fate Of My Life (END)
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • ADEEVA
  • Last Scene
  • Love Hurts
  • Memories in Moon
  • T E R B U N U H   S E P I  || Z W E I T S O N •• U N 1 TY || E N D
  • A R S E A N A
  • M E M O R Y  (On Going)
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines