Begitu Lama

Begitu Lama

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 28, 2018
Setelah terlalu lama tidak pernah bertemu Setelah jarak itu Setelah terakhir kali kita bertemu Di hari itu, di moment itu Kita tak pernah lagi bertemu bahkan hanya sekedar bertegur sapa Dan entah kenapa beberapa bulan ini Kita kembali bertemu Kita kembali saling bicara dan saling menyapa Setelah sekian lama dan mendengar suara dan tawa mu Aku kembali dapat apa yg Pernah kurasakan *dlu* tapi pertemuan kali ini Tak bisa membuat ku berharap kembali Karena kecewa tak menjamin hanya datang sekali Setiap kali kita bertemu. Ketika saling menatap Saling bicara Saling melempar canda dan tertawa. Setiap detiknya aku merasakan senang juga derita Di saat yang bersamaan Setiap detik aku menata kembali raut wajahku Hingga sampai saat ini kau tak pernah tau Apa yang terjadi! Ada kala nya aku menetes kan air mata Karena pertemuan ini Takdir seperti sedang bermain main denganku Kadang dia membwa ku ke langit Sesaat dia melepaskan ku dari langit itu Meskipun terlalu lama rasa ini Meskipun setelah jarak yang pernah ada. Meskipun air mata selalu hadir Dan meskipun hanya aku yg merasakan Kenapa ini tetap utuh seperti dulu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • • EUTANASIA •
  • SalFlo
  • Far from Here
  • save me
  • Antara Teman dan Teman Hidup
  • Remaja
  • Full Of Scratches
  • Ketika Tulisan bercerita?
  • Berjanji Untuk Sehati

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines