Dia menolak ku.
Satu-satunya pria yang pernah menolakku, satu-satunya pria yang berani mendorongku menjauh.. satu-satunya pria yang sangat ku inginkan.
Aku akan memilikinya.
Sekeras apapun dia mendorong pinggangku untuk memisahkan ciuman ini, sekeras itu pula aku memeluk tengkuknya dan memperdalam ciuman ini.
Rasa frustasi telah membutakanku, membuatku nyaris tidak waras dengan rasa cemburu yang memenuhi seluruh tubuh.
Mulutnya mengetat, berusaha menolak saat tanganku merambat mengusap bahu dan dadanya yang masih terbungkus kemeja.
Mengerang, setelah sebuah kecupan akhir, aku menurunkan ciumanku menuju telinganya. Menghembuskan nafas pelan dan berbisik.
"Ada apa? Bukankah kita sudah pernah melakukan ini?"
Di pangkuannya, aku menggigit telinganya pelan, sedikit melengguh sebelum kembali menurunkan ciumanku kembali menuju lehernya yang selalu berhasil membuat imajinasiku menggila.
Tangannya meremas pinggangku semakin keras, "Lepaskan aku."
Dia menggeram, membuatku justru menyeringai dengan sangat senang.
"Bagaimana bisa kau menolak keinginan istrimu hum?" Aku berbisik, mengangkat wajahku menatapnya.
Bahunya melemah, wajahnya terkejut, diantara alkohol yang mengambil alih kesadarannya aku bisa merasakan sisa kemarahan yang selalu dia tunjukan padaku kembali membara.
"Jangan merepotkan dirimu sendiri sayang, kau tau itu akan sia-sia." Aku mengerakan salah satu jariku mengusap wajahnya.
Pencahayaan minim dari lampu kamar hotel membuat wajahnya yang selalu menjadi kesukaanku itu semakin terlihat menakjubkan.
Dia menatapku marah, rahangnya bergemeretak.
"Wanita licik."
Aku tertawa, "Memang,"
Kembali mendekati wajahnya dan menatap bibir tipis menggairahkan miliknya dengan atensi penuh. Tanpa sadar menggigit bibirku sendiri, gemas.
"Jika untuk mendapatkanmu, tidak akan ada wanita yang tidak bersikap licik."
Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku.
Hanya padaku.
Sean Aldarict
Ini tentang aku dan dia yang untuk menyebut namanya saja aku enggan. Enggan karena males tentunya.
Ah, kalau saja dia tidak sedikit lebih dariku. Tapi bohong. Dia sudah melebihi semuanya. Hampir mendekati sempurna. Selain wajahnya, bentuk tubuhnya, juga dari segi kekuatan. Kalau saja aku memiliki sedikit kelebihan untuk bisa mengalahkannya.
Aku tidak suka jika aku tidak berdaya padanya.
Tapi terlambat.
Dia sudah menang.
Aku ingin memprotes kenapa aku terlahir sebagai perempuan. Tapi itu tidak mungkin. (Aku tidak ingin mendapatkan karma Tuhan.)
Aku hanya tidak suka jika aku lebih lemah dari pria.
Wanita melihat dengan perasaan sementara laki-laki dengan logika.
Meski aku wanita aku harap aku memiliki cara berpikir yang berbeda. Aku ingin melihat dengan logika dan berpikir sederhana seperti laki-laki. Bukan pikiran yang selalu merisaukan segala hal. Apalagi karena sebuah perhatian kecil. Tapi...
Tresno jalaran saka kulino (Cinta karena terbiasa)
Aku takut mantra itu akan berlaku padaku.
Sial. Sial. Sial.
Tapi karena aku wanita, dan wanita tulen, jadi tanpa bisa ku cegah, mau tidak mau, aku jadi memikirkannya. Dengan sendirinya, pikiranku mulai menghubungkan segala sesuatu dan diikuti oleh aroma-aroma dan rasa-rasa.
Ini yang dibicarakan dia lo. Rema. Jangan bilang kalau dia berkepribadian ganda!
Mana mungkin sih vampir memiliki kelainan jiwa?
Nah, selamat datang di ceritaku. Coba kalau itu kalian, akankah kalian juga akan risau sepertiku?