at: 12am

at: 12am

  • WpView
    Leituras 4,309,933
  • WpVote
    Votos 375,466
  • WpPart
    Capítulos 80
WpMetadataReadConcluída ter, jul 21, 2020
WpInfo
Ficção
Romance
Dia menolak ku. Satu-satunya pria yang pernah menolakku, satu-satunya pria yang berani mendorongku menjauh.. satu-satunya pria yang sangat ku inginkan. Aku akan memilikinya. Sekeras apapun dia mendorong pinggangku untuk memisahkan ciuman ini, sekeras itu pula aku memeluk tengkuknya dan memperdalam ciuman ini. Rasa frustasi telah membutakanku, membuatku nyaris tidak waras dengan rasa cemburu yang memenuhi seluruh tubuh. Mulutnya mengetat, berusaha menolak saat tanganku merambat mengusap bahu dan dadanya yang masih terbungkus kemeja. Mengerang, setelah sebuah kecupan akhir, aku menurunkan ciumanku menuju telinganya. Menghembuskan nafas pelan dan berbisik. "Ada apa? Bukankah kita sudah pernah melakukan ini?" Di pangkuannya, aku menggigit telinganya pelan, sedikit melengguh sebelum kembali menurunkan ciumanku kembali menuju lehernya yang selalu berhasil membuat imajinasiku menggila. Tangannya meremas pinggangku semakin keras, "Lepaskan aku." Dia menggeram, membuatku justru menyeringai dengan sangat senang. "Bagaimana bisa kau menolak keinginan istrimu hum?" Aku berbisik, mengangkat wajahku menatapnya. Bahunya melemah, wajahnya terkejut, diantara alkohol yang mengambil alih kesadarannya aku bisa merasakan sisa kemarahan yang selalu dia tunjukan padaku kembali membara. "Jangan merepotkan dirimu sendiri sayang, kau tau itu akan sia-sia." Aku mengerakan salah satu jariku mengusap wajahnya. Pencahayaan minim dari lampu kamar hotel membuat wajahnya yang selalu menjadi kesukaanku itu semakin terlihat menakjubkan. Dia menatapku marah, rahangnya bergemeretak. "Wanita licik." Aku tertawa, "Memang," Kembali mendekati wajahnya dan menatap bibir tipis menggairahkan miliknya dengan atensi penuh. Tanpa sadar menggigit bibirku sendiri, gemas. "Jika untuk mendapatkanmu, tidak akan ada wanita yang tidak bersikap licik." Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku. Hanya padaku. Sean Aldarict
Todos os Direitos Reservados
#50
loveline
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • When The Jerk Falling in Love
  • Suit and Tie [2] | ✅
  • KANIA'S LOVER (Complete)
  • WILDEST
  • I HATE YOU, I LOVE YOU [COMPLETED]
  • Stuck WIth You! (Tamat)
  • [ E N D ] Bandung dan Kenanganku Tentangmu
  • SUAMIKU BACK TO NORMAL [Completed]
  • My Doctor My Bodyguard (End)
  • [BG1]ADELIARLAN

"Aku maunya sama kamu sayang" sahut Rio. Ify tersenyum sinis yang membuat kening Rio bertaut bingung. "Dasar yang namanya brengsek ya tetap aja brengsek." Rio menggertakkan giginya mendengar ucapan Ify itu. Oke dia memang playboy yang suka mematahkan perasaan perempuan. Namun dia tidak seberengsek itu. Dia tidak pernah meninggalkan wanitanya dalam keadaan telanjang di sebuah kamar hotel atau bahkan dalam keadaan hamil. Jadi dia tidak bisa dikatakan brengsek kan seharusnya? Rio mendorong Ify hingga tersandar di pintu. Dia mengunci pergerakan Ify dengan tubuhnya sendiri. Dia juga menatap tepat ke arah bola mata Ify. "Aku emang brengsek. Tapi aku gak sebrengsek yang kamu pikirkan" bisik Rio di telinga Ify. Dia bisa merasakan kalau wanita yang kini berada dalam kurungannya itu memejamkan matanya karena takut. "Tapi aku dengan senang hati akan menunjukkan kebrengsekkan aku itu ke kamu sekarang" tambah Rio lagi. Dia membelai pipi Ify dengan jarinya seiring dengan wajahnya yang semakin dia dekatkan ke wajah Ify. Ify merinding begitu melihat tatapan penuh intimidasi dari Rio. "Ja-ng-an ma-cem-ma-cem!" Kata Ify terbata begitu Rio semakin mendekatkan wajahnya. "Kenapa kamu takut?" Tanya Rio lagi. Seulas senyum terukir di bibirnya. Ify menggenggam pergelangan tangannya dengan erat. Perasaan takut dan cemas Rio benar-benar akan melakakukan apa yang dia ucapkan itu tiba-tiba muncul. Apalagi Rio semakin mempertipis jarak di antara mereka. Dia bahkan hampir-hampir menahan napasnya karena wajah Rio yang begitu dekat dengan wajahnya. Hingga kemudian dia refleks menutup matanya begitu melihat Rio semakin mempertipis jarak diantara mereka. Coppy right @ 15 Februari 2018

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo