Truth Or Dare!

Truth Or Dare!

  • WpView
    Reads 99
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 28, 2019
Terimakasih, karena pernah hadir. Kamu, sang pemilik relung hati ini. Kamu, yang hanya bisa kutatap melalui jarak. Raga ini seolah mati. Karena separuhnya dibawa oleh pemilik sesungguhnya. Tak tau kapan separuh itu akan kembali. Kini ia hanya bisa diam. Tak bisa berlaku apapun. Yang ia tau, kini gadisnya telah pergi. Yang dengan begitu jelasnya, meninggalkan ia dengan membawa separuh hatinya. Tapi apa kau tau? Aku tak pernah bisa menghapuskan segala memori indah dari dalam diriku. Kamu terlalu lekat denganku. Seperti telah ribuan tahun kita bersama, namun tidak. Seperti telah ribuan tawa kita lakukan bersama, namun tidak. Percayalah, ini tidak mudah. Maka, jangan memaksaku untuk melakukannya. Kamu, tenanglah. Aku disini baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu waktu yang menjelaskan segalanya. Terimakasih tuk segalanya yang telah kau persembahkan untukku. Aku, lelaki yang selalu menuai luka di hatimu. Kamu, yang nyatanya bisa menerima diriku apa adanya. Terimakasih, untukmu, gadis terbaikku. -Yogi Prasetya Pratama
All Rights Reserved
#40
yogi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Halaman Terakhir Untuk Gara [END]
  • First Love
  • KENANGAN INDAH BERSAMAMU
  • To Touch the Moon
  • Kanaya's Own Story [END]
  • Sekali Lagi
  • Lauhul Mahfudz (END)
  • My Love Journey

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines