My Story

My Story

  • WpView
    LECTURAS 17
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, sep 30, 2018
Ini kisah ku. Nama ku Muhammad gimnas tiara lebih sering orang orang memanggil ku agim aku lahir di Jakarta 10-10-2002 yang lahir di sebuah rumah sakit kecil. Aku lahir dalam kondisi normal tapi ada sebuah teragede yang dimana saat itu aku terikat Tali pusar dan di sana sesosok ibu melihat ke arah bai itu dengan pandangan lemah Dia menggendong anak itu dan berkata sabar ya nak sambil tersenyum dan setelah itu bai itu pun langsung terdiam dan tersenyum lembut sontak langsung lah parah petugas rumah sakit bergegas memotong tali pusar yang ada di leher sang bai dan akhirnya berhasil. Dan anak itu pun selamat dan sehat sampai sekarang. Jakarta 10-10-2002.
Todos los derechos reservados
#192
paskibra
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • BAD
  • Aa Iqbaal
  • Tentang Aku
  • Gadis Desa Jadi Milliarder (END)
  • Truth or Death ( On Going)

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido