Lili
  • WpView
    Reads 2,373
  • WpVote
    Votes 190
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 13, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Vanezi Nataliliana, itu aku. Sebagai anak yang hanya tinggal bersama Ibu aku menjadi anak penurut. Ayah? Ayah dan kakakku pergi sejak orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Dengan sehari hari yang menjadi pribadi kurang rajin. Topan selalu membantuku memperbaiki segala sisi negatif hidupku. Yah, walaupun kadang memang dia menjengkelkan dan memaksa. Tapi siapa yang bisa merekayasa perasaan? Aku yang tidak paham dan belum pernah tahu apa itu cinta. Selalu digosipkan yang tidak-tidak. Hidupku seperti menjadi kehidupan manusia yang paling membingungkan dan menyedihkan. Lebih baik menjadi diri sendiri. Tapi kalau aku tidak tahan, bagaimana bisa? Tapi kata Topan aku bisa. ......... "Hei! Sini, rambutmu berantakan!" "Biarin, aku mau cepet beli eskrim. Ayo Pan!" "Nggak,". Topan segera menggeret tangan Lili sampai dia terduduk dan segera melancarkan aksinya. "Aww, pelan-pelan dong sisirinnya. Sakit Jalangkung, aw!" "Makannya diem. Jangan gerak-gerak." "Ck. Aku nggak nyuruh loh, kamu sendiri yang mau. Terserah aku lah." "Bawel." ............ Sampai akhirnya waktu dan impian akan memisahkan mereka. Apa yang akan terjadi nanti? Apa rasa itu akan selalu sama? Kita tak akan pernah tau jika tak membacanya kan? Ikuti terus kisah serunya kehidupan mereka di "Lili" dan semoga menghibur. Terimakasih
All Rights Reserved
#96
sastraperempuan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Segitiga [END]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Im Yours.
  • dimana janji tersebut
  • Sosiologi Cinta (TAMAT)
  • Rapuh Lalu Retak (RLR)
  • DEVIAN [END]
  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines