BISIK WAKTU YANG TERLAMBAT
43 bab Bersambung Hening. Hanya desir angin yang menjadi saksi bagaimana waktu tak pernah mau berkompromi. Aku berdiri di tempat yang dulu penuh tawa, namun kini hanya menyisakan kehampaan. Jejak langkahnya sudah lama menghilang, tetapi bayangannya tetap tinggal-menghantui setiap sudut ingatan yang tak mau pergi.
Aku seharusnya berkata sesuatu saat itu. Aku seharusnya berlari, memeluknya, atau setidaknya menahannya untuk tidak pergi. Tapi aku diam. Dan waktu, seperti selalu, terus berjalan tanpa peduli pada mereka yang terlambat menyadari segalanya.
Sekarang, yang tersisa hanyalah kata-kata yang tak sempat terucap, permohonan maaf yang tak pernah sampai, dan bisikan waktu yang hanya bisa kudengar dalam sunyi.
Karena pada akhirnya, kita baru benar-benar mengerti betapa berharganya sesuatu... saat semuanya sudah terlambat.