SEKETIKA🍃

SEKETIKA🍃

  • WpView
    Reads 637
  • WpVote
    Votes 42
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 10, 2018
Seorang gadis yang baru beranjak remaja dengan langkah sedikit berlari menyandang tas dengan sebuah koper yang berisi baju. "Ara Cepetan Dikit Dong"Teriak seorang lelaki yang sedang menunggu ku di mobil dan beliau adalah papaku. "Ara" iya itu adalah nama panggilan ku. sedangkan nama panjang ku Clara Nalita Azahzahira Prakusya Dwi Putri. ya! Nama ku memang sedikit panjang dan maklum aku adalah anak perempuan satu-satunya. Dan aku mempunyai seorang kakak laki-laki yang bernama Aditya Pratama Prakusya. pasti kalian bingungkan kenapa nama kami berdua selalu ada "PRAKUSYA" karena itu adalah akhir dari nama papaku yakni Agus Prakusya. Dan kebetulan papa ku adalah seorang dosen di universitas di kota raflesia ini dan mama ku adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit di kota ini. Sedangkan kak adit dia sekarang menduduki bangku kelas 12 sma terfavorit disini dan aku hffffffff... Aku baru ingin menduduki bangku SMA. Di sepanjang perjalanan dengan hati yang tidak ikhlas aku menyetujui kemauan papa yang merencanakan ku untuk sekolah di luar kota ini yaitu di rumah neneku. berpisah dengan teman-teman ku rasanya begitu berat. tapi aku harus tetep mengikuti kemauan papa karena apa yang telah di rencanakan nya itu demi masa depan dan kebaikan saya juga. @Jangan Lupa Baca Story Selanjutnya ya gays
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak wasiat kakakku
  • Bitter Is You || ✔ ||
  • My Duchess / End
  • kenapa harus kapten basket yang jadi suamiku
  • Gardenia | END
  • Aryashka Adhinatha Mavendra
  • DANGEREUX
  • Raden
  • You Are Mine

Namaku Alya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa langkah kakiku suatu hari akan menggantikan jejak perempuan paling kuat yang pernah aku kenal: kakakku, Alisa. Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah besar bercat abu muda itu, rumah yang dulunya hanya aku singgahi saat libur semester atau ketika merindukan masakan kakakku. Tapi sejak Alisa divonis kanker paru-paru stadium lanjut, rumah itu menjadi dunia baruku. Aku memilih cuti kuliah, meninggalkan kosan kecilku di Jogja, dan kembali ke kota ini-demi merawatnya. Aku masih ingat hari ketika pertama kali datang kembali ke rumah itu. Anak-anak Alisa, Rani dan Dafa, langsung berlari memelukku. Rani sudah kelas dua SD, dan Dafa masih TK. Mereka belum tahu betapa besar badai yang sedang menunggu kami semua. Dan di tengah rumah itu, ada sosok pria yang paling jarang bicara: Rayhan. Suami Alisa. Kakak iparku. Ia selalu tenang. Terlalu tenang, bahkan saat Alisa harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya bulan itu. Ekspresinya nyaris tidak berubah-datar, kaku, dan kadang membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai kakakku atau hanya hidup berdampingan karena kebiasaan. "Mas Rayhan, teh hangatnya," kataku malam itu, sambil meletakkan cangkir di meja. Ia hanya menoleh sekilas. "Makasih." Lalu kembali tenggelam di balik layar laptopnya. Begitulah Rayhan. Ia tidak pernah kasar, tidak pernah marah, tidak pernah meninggikan suara. Tapi juga tidak pernah benar-benar hadir. Ia adalah tipe laki-laki yang, entah kenapa, membuat dada terasa sesak hanya karena terlalu hening. Sementara itu, kondisi Alisa kian memburuk. Berat badannya turun drastis, rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, dan batuknya sering berdarah. Tapi ia tetap tersenyum. Tetap berusaha mencatat tugas-tugas sekolah Rani, tetap memeluk Dafa sebelum tidur. Suatu malam, saat aku menemaninya di kamar, Alisa mem

More details
WpActionLinkContent Guidelines