Diary Nath.

Diary Nath.

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 13, 2020
Sakit rasanya difitnah setiap hari, dimarahin setiap hari, bahkan dipukul setiap hari. Setiap orang pasti mempunyai batas kelelahan. Saya mengaku saya lelah. Orang tua saya yang saya anggap untuk meringankan berat beban saya juga melakukan hal yang sama. Saya mengaku kalah dalam menghadapi hal ini tapi saya mohon saya juga butuh kebahagiaan. Ingin rasanya setiap hari saya tertidur pulas, ingin rasanya saya tersenyum tulus, dan ingin rasanya saya tertawa lepas. Tanpa memikirkan semua beban yang ada pada diri saya. Saya butuh penopang. Ya dia. Saya mendapatkan seorang laki-laki yang sangat saya sayangi dan saya cintai. Dia seorang laki-laki yang selalu ada untuk saya, yang selalu sayang kepada saya, yang selalu mendengarkan keluh kesah saya, dan yang selalu menenangkan saya ketika saya sedang terpuruk. Seiring berjalannya waktu dia juga mengikuti jejak yang lainnya yaitu pergi meninggalkan saya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • Diary Depresiku
  • LELAH
  • Letters for Self
  • Dendam Cinta Tuan Sagara
  • Sepotong Kekosongan [ THE END ]✔︎
  • Sebuah Rasa
  • please stop it!! [Ending]
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines