Secret And Admirer (End & Revisi)

Secret And Admirer (End & Revisi)

  • WpView
    Reads 50,267
  • WpVote
    Votes 3,712
  • WpPart
    Parts 34
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 5, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Mengapa tak kau jemput saja asamu dengan doa. Amna menekuri potret ke dua sahabatnya dengan mata berembun. Sungguh, beban apa yang membuat mereka lebih memilih menentukan kematian mereka sendiri alih-alih meluaskan hati, menunggu keputusan Tuhan. Karena tidak ada tempat dimana kau bisa mengadu sekaligus meminta pertolongan dengan mudah hanyaTuhan lah yang maha pemberi petunjuk lagi maha pemurah. Oktober tengahan.
All Rights Reserved
#171
karyafiksi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DOSA DIAM
  • Takdir Dalam Do'a
  • Percayalah [Completed√]
  • Cintaku Serumit Itu
  • Takdirku ✓
  • KITA BERBEDA (antara Aku, Kamu, dan Tuhan)
  • Sahabat Dan Cinta [END] ✔️
  • Izinkan Aku Menghalalkanmu [END]
  • Aisyah
  • Hijaber [SEGERA TERBIT]
DOSA DIAM

Di balik pagar tinggi dan lantunan ayat yang terus mengalun, ada tempat yang tampak damai. Setiap hari diatur oleh jadwal yang sama, suara azan yang memanggil, dan wajah-wajah yang seolah tenang. Tapi ketenangan tak selalu berarti aman. Beberapa datang ke tempat itu untuk mencari ilmu, sebagian untuk mencari arah. Namun ada yang datang membawa beban yang tak kasat mata, beban yang tak bisa ditinggal di luar gerbang. Di dalam kamar-kamar sempit dan lorong-lorong yang tak pernah benar-benar sepi, sesuatu mengintai. Bukan sosok. Tapi perasaan. Tekanan. Dendam. Dan rasa bersalah yang tak pernah padam. Apa yang terjadi di masa lalu seolah terkubur rapi. Tidak ada yang berani membicarakannya, apalagi menanyakan. Tapi diam tidak pernah benar-benar memadamkan kebenaran. Ia hanya menundanya... sampai waktunya tiba untuk muncul dalam bentuk yang tak terduga. Dan ketika suara-suara samar mulai terdengar saat malam tiba, ketika tatapan menjadi dingin dan doa-doa terasa hampa-seseorang tahu bahwa tempat itu tidak lagi menjadi tempat berlindung. Tapi medan perang yang sunyinya bisa membunuh siapa saja yang memilih tetap diam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines