Matahariku, Adrian

Matahariku, Adrian

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 11, 2018
Pagi itu, hujan membasahi daerah rumahku. Aku yang sedang sakit demam hanya bisa merebahkan tubuhku yang lemas dan cukup panas. Dengan menatap jendela dan teh panas yang terseduh diatas meja tidurku, aku merasa kesepian walau dirumah ada ibuku yang siap menolongku. Detik demi detik aku menunggu hujan berhenti, agar aku bisa melihat dia, sang matahariku, Adrian.
All Rights Reserved
#423
senior
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tentang Hujan
  • Rain Drop (Hujanpun Tahu Bahwa Aku Merindukanmu)
  • The Wind Blows
  • I Hate Rain
  • Hujan Di Langit November
  • Mengapa memintaku untuk bertahan
  • Please! don't leave me. (Completed)
  • RAIN
  • I LOVE RAIN🌧
  • MY SEQUOIA [COMPLETED] ✔

Aku hanya diam, dan orang lain lalu lalang. Aku berdiri di sudut sebuah terminal, menunggu bus yang akan mengantarku berangkat ke sekolah. Mungkin tak tepat juga dikatakan menunggu bus, karena bus yang menuju ke arah sekolah sudah dari tadi berangkat, dan aku melewatkan banyak bus, menunggu hujan reda. Bukannya aku tak suka hujan, aku hanya tidak membenci hujan. Biasa saja. Hanya air yang turun dari langit, itu saja. Tapi banyak orang yang menanggapi hujan dengan berlebihan, seperti yang ada di sekitarku sekarang. Terlihat seorang ibu-ibu yang membawa dagangan yang akan dijualnya di pasar repot menutupi barangnya agar tak kebasahan. Ada seorang bapak yang mondar-mandir dan memakai telepon genggamnya, sepertinya dia seorang bos suatu perusahaan, dia terlihat memaki-maki, bukan memaki orang yang ada di seberang telepon, tetapi memaki hujan. Hujan, kau mau apa sebenarnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines