He
"Dia. Ah dia yang hanya bisa ku deskripsikan dengan kata SEMPURNA, dia lah yang membuatku merasakannya. Dia yang membuatku merasakan segala hal, termasuk merasakan bagaimana rasanya jatuh, kecewa, sedih, bahagia, tertawa, menangis, dan bahkan dia yang membuatku merasakan rasanya seseorang yang berjuang tanpa dihargai. Terima kasih, terima kasih karena sudah membuatku merasa dicintai walau hanya pura-pura. Dia memang sempurna, dan lelaki sempurna memang tidak pantas untukku. Seperti kata orang, aku dan dirinya bagaikan majikan dan pembantunya. Mungkin dia memang bukan takdirku, aku melepaskannya bukan karena rasa cintaku yang berkurang, tapi karena tangan ini sudah lelah mempertahankan yang seharusnya pergi, mungkin ini memang salahku yang memaksakan takdir agar bisa tetap bersamanya. Jika kita berjodoh aku hanya berharap kita dapat disatukan kembali, ya aku harap aku bisa bersamanya walau kenyataannya itu tidak akan mungkin terjadi. Izinkan aku untuk mencintaimu dalam diam."
******
"Lo....brengsek!!" Teriak seorang perempuan dan menjambaki rambut seorang pria yang berada di hadapannya.
"Maksud Lo apa-apaan? Hah?! Lo udah ngambil semua yang gue punya tapi kenapa Lo kayak gini sama gue? Gue punya salah apa sama Lo? Bahkan gue udah ngasih Lo sesuatu yang ber-" ucapan perempuan itu terpotong
"Bacot. Salah Lo sendiri yang jatuh di dalam lingkaran permainan gue" balas pria itu tajam dan mengecup sekilas pelipis sang perempuan sebelum akhirnya pergi meninggalkan sang perempuan tersebut.
********
Ululululuuuu
Dibaca gaes dibaca pasti suka sama ceritanya, kalau gak percaya baca aja langsung.
" Lo ngga lagi berubah ke alter ego Lo yang lain kan ?" Tanya Icha memastikan karena jawaban dari raksa tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Yang ditanya malah senyum senyum sendiri.
"Kumat kan Lo malah kerasukan sekarang, senyum" ngga jelas lagi"
"Takut ya lo kalo gue kerasukan bneran?"
"Ish seriusan raksa gue nanya beneran"
" Lo mau gue jawab seserius apa Cha karena itu emng jawaban gue"
"Terus apa hubungannya posisi sama penyakit?"
"Ada, klo gue ngasih tau ke bokap tentang penyakit gue ini sama aja kaya gue yang ngambil peran tokoh utama dari Abang gue sendiri"
" Abang? Bang reja maksud lo?"
"Apaan si sa jawaban Lo ambigu bgt bang reja ga mungkin kali sejahat itu sama Lo nganggep lo rebut kasih sayang bokap Lo"
"Iya gue tau bang reja ngga cuman ngga sejahat itu tapi dia juga sayang bgt sama gue, kalo Lo jadi gue emng Lo tega biarin diri Lo sendiri rebut tokoh utama yang seharusnya bukan milik Lo?"
" Tokoh utama apaan lagi si sa, kita ini di dunia nyata jadi ya tokoh utama nya ya cuman diri Lo sendiri, gue saranin mending Lo buruan bilang ke bokap Lo tentang penyakit lo itu"
Raksa tertegun mendengar perkataan Icha itu
" Lo malu yah punya calon pacar penyakitan mental kaya gue?"
"Apaan si emng gue mau jadi pacar lo "
Jawab Icha sepelan mungkin.
" Kalo mungkin Lo nantinya jadi pacar gue sa, gue ga bakalan malu punya pacar seorang raksa yang menurut Lo, Lo adalah manusia penyakit mental karena itu ngga jadi masalah buat gue tapi masalahnya apa iya gue pantes, bersanding sama Lo yang terlalu sempurna buat gue, dan lagipula gue masih ada rasa buat Abang lo sa"batin Icha
Tanpa mereka sadari setelah percakapan mereka berhenti disana mereka saling bergumam dalam hati, sambil menikmati sejuknya terpaan angin sore di tepi ladang sawah.