Not to Break It

Not to Break It

  • WpView
    LECTURAS 4,340
  • WpVote
    Votos 133
  • WpPart
    Partes 6
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, sep 10, 2016
This is story about the CEO bernama Brian Harris. Pria berusia 29 tahun yang memiliki segalanya ; kekayaan,ketampanan ,dan keahlian dalam urusan bisnis juga kehebatannya di ranjang,tapi yang tidak pernah ia miliki sampai saat ini dan rasakan adalah cinta seorang wanita yang tulus dan menerima dirinya apa adanya.apakah ia akan memiliki cinta untuk dirinya?
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Beloved CEO : CEO Tercinta
  • Affair with My Step-Brother ✔  [ SUDAH TERBIT ]
  • Secretary Wife IDEAL ✔
  • My Partner Is CEO (Complete)
  • [END] The Perfect Billionaire
  • My CEO Hypersomnia
  • JEBAKAN CEO NAKAL (21+)

Completed ✅ Bagi Stella Francis, bekerja di Peters & Co. adalah tiket satu arah menuju hidup yang lebih layak, walau itu berarti harus mengenakan sepatu murah yang lecetnya tak bisa disembunyikan, menyimpan bekal dalam kotak makan anak-anak, dan tetap tersenyum lebar sambil membawa lima gelas kopi untuk rekan satu tim. Ia tahu dunia kantor tak selalu ramah, apalagi jika atasannya adalah Stefan Peters, seorang CEO yang lebih nyaman berbicara dengan spreadsheet daripada manusia. Namun Stella bukan tipe wanita dua puluh tujuh tahun yang mudah surut. Di balik sikap riangnya, ada keteguhan yang telah ia tempa, bahkan oleh Stefan yang dikenal dingin. Perlahan, celah-celah kecil terbuka. Dalam ruang-ruang diskusi larut malam dan proposal yang disusun berdua, Stefan mulai melihat sisi lain dari Stella, bukan hanya sebagai rekan kerja dan karyawati yang selalu bersinar, tetapi sebagai seorang perempuan yang hidupnya ditambal oleh keterbatasan dan tak pernah kehilangan cahaya. Keduanya berjalan di garis tipis antara profesionalisme dan sesuatu yang jauh lebih personal. Karena ternyata, yang paling sulit bukan menjaga jarak, melainkan pura-pura tak merasa apa-apa. Tapi bagaimana jika yang coba mereka hindari justru satu-satunya hal yang layak diperjuangkan?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido