Umbrella

Umbrella

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 12, 2018
" kamu tahu hakikat payung ?" "Melindungi saat kita kehujanan, bukan?" "Kalau untuk melindungi kenapa engga pakek mantel hujan saja? Itu lebih efektif, ra" ucapnya sambil tersenyum hangat padaku. "Iya juga" "Payung itu seperti kita ra. Kita melindungi satu sama lain" "Kita akan seperti ini selalu kan, ndu? " itu masalahnya ra. Kita berbeda. Seperti awan dan angin. Kamu angin yang membuatku bergerak. Walau sebenarnya aku hanya ingin diam di satu titik" *** Bagi seorang ara pandu adalah dunianya. Namun bagi pandu, ara adalah dunia yang tidak ingin ia datangi. "Bagi dunia mungkin kamu hanya seorang ndu, tapi bagi seseorang bisa saja kamu adalah seluruh dunianya"
All Rights Reserved
#419
ara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Parachma [END]
  • The Mistake of My Life
  • Hujan (Completed)
  • FEARLESS || JAYISA
  • Fira Florin
  • ZIELA
  • Umbrella and Rain
  • AZGLAIR
  • ELGARVE ; MY POSSESSIVE BOYFRIEND
  • PENUNGGU BIOSKOP

"Kita kan sering ketemu Ra, ibarat kata kita udah biasa bareng berdua. Jadi bisa aja kan ada perasaan special yang timbul." Ucap Pandu. Rachma hanya diam sibuk mencerna apa yang dikatakan Pandu barusan, entah malam ini otaknya terasa sangat lambat untuk menerima percakapannya dengan Pandu. "Kita sama-sama dewasa Ra, jadi nggak mungkinkan aku mau main-main sama kamu. Udah bukan waktunya lagi." Imbuh Pandu lagi. "Mas Pandu?," panggil Rachma. Pandu menengok kearahnya, melihat lekat kearah mata hitam nan indah itu dengan lembut. "Jangan bilang iya kalau akhirnya enggak, jangan janji kalau nantinya nggak bisa menepati." Ucap Rachma sendu. "Aku nggak pernah main-main sama ucapan aku Ra, sekalinya aku sayang nggak bakal aku lepas. Walaupun ada yang menentang sekalipun." Tegas Pandu. Malam ini bintang serta cahaya rembulan menjadi saksi antara mereka berdua, membangun komitmen memang tak pernah semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada kepercayaan, komunikasi, serta pengertian yang luas dan dikehendaki keduanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines