Story cover for RACFLI by rahmadewi0911
RACFLI
  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
Ongoing, First published Oct 20, 2018
Kalau memang takdir tidak memberi kita jalan mungkin nanti kita bisa bertemu dipersimpangan. Kalau memang hujan menghalangi,mungkin kita bisa bercanda dibawah payung tua. Kalau waktu memang tak lagi bersedia,mungkin satu satunya cara adalah mengikhlaskan. Karena orang pernah berbisik,selagi kamu membuat cara tuhan akan membuka jalan.


Ini tentang rachel dan rafli. Dia berdua adalah teman kecil, tetapi karena suatu masalah rafli jadi melupakan rachel.
Jdi gimana ya apa rafli mengingatnya atau  tidak?
All Rights Reserved
Sign up to add RACFLI to your library and receive updates
or
#273temankecil
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Cinta dalam Diam(End) cover
Kutinggalkan dia karena Dia cover
Apakah Kita Bisa Bersama  cover
Karena Kamu Rumahnya  cover
RAHSYA UNTUK NAURA  cover
janji kecil  cover
1 CINTA 2 SAHABAT cover
Menyimpan Rasa (END) cover
The First, Not the Last cover
Meninggalkan Tanpa Pamit cover

Cinta dalam Diam(End)

16 parts Ongoing

Sequel cerita Wattpad Khadijah dan senyum Khatan Khayla terlahir tanpa kemampuan berbicara, tetapi itu tidak membuatnya lemah. Dengan bahasa isyarat, ia belajar berkomunikasi dan mengekspresikan dirinya. Namun, tidak semua orang bisa menerimanya. Sejak kecil, ia kerap menghadapi ejekan dan perundungan, hingga hanya ada satu orang yang selalu berdiri di sisinya Rafi. Bagi Rafi, Khayla bukan sekadar sahabat. Ia adalah seseorang yang ingin selalu ia lindungi, meskipun perasaan yang tumbuh di hatinya tetap ia simpan rapat-rapat. Namun, semua berubah saat Bram, teman lama mereka, kembali di SMA. Kehadiran Bram membuat Rafi menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan-rasa cemburu yang perlahan menguasai hatinya. Di sisi lain, Khayla harus menghadapi Nadine, seorang gadis yang tidak menyukainya karena merasa Khayla menghalangi jalannya menuju Bram. Perundungan kembali menghantuinya, lebih parah dari sebelumnya. Tapi kali ini, Khayla tidak ingin hanya bergantung pada orang lain. Ia ingin melawan, ingin membuktikan bahwa meskipun ia tak bisa bersuara, bukan berarti ia tidak bisa didengar. Ketika kata-kata tak selalu bisa diucapkan, dapatkah cinta tetap tersampaikan? Atau justru akan terus terpendam dalam diam?