Princess Empire and Knights Darkness

Princess Empire and Knights Darkness

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 27, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
cahaya rembulan menjadi saksi bisu atas pertumpahan darah kekaisaran meiji, kini berdirilah seorang putri yang masih belia menatap kosong terhadap apa yang telah terjadi di depan nya. Butiran kecil menetes merambah melalui pipi mungil nya, kini dia sendirian tanpa ada satupun dayang atau keluarga yang mendampinginya. Hampa,dingin,sedih,semua yang dilihatnya merupakan kejadian yang paling mengerikan yang pernah dia alami, "ayahanda..ibunda",ucap pelan gadis itu"siapa yang melakukan semua ini!!kenapa aku tidak ikut mati saja bersama kalian!!"teriak gadis kecil itu.sebuah pedang berlumuran darah yang tergeletak sembarangan di ljantai telah diambilnya,kini dia siap untuk mengakhiri hidupnya sendiri agar bisa bertemu keluarganya di surga nanti,hingga sebuah tangan pun menahan pergerakan gadis kecil itu lalu dia memeluk gadis itu dengan sangat erat,"jangan lakukan itu..",rasanya hangat,menenangkan dan terlindungi,siapakah dia,luapan emosi gadis itu pun ia teriakkan dengan tangisan yang menyedihkan,amat sengsara,seakan ditusuk bertubi tubi,tapi pelulan hangat itu tetap erat dan menenangkan seakan adalah sebuah cahaya baru yang mampu meluluhkan hati nya.
All Rights Reserved
#385
mentari
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • she is princess
  • AIR MATA IBLIS : untold story of Kanaya
  • Boyfriend
  • Haluan Takdir (With Seanna) [END]
  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • Menjaga Monster

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines